Leet Media

Nike Menghadapi Penurunan Pendapatan Terburuk dalam Lima Tahun: Kesalahan Strategi, Persaingan Ketat, dan Upaya Pemulihan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

March 25, 2025 By Diva Permata Jaen

Andrew Angerer / Getty Image

26 Maret 2025 – Nike, raksasa industri pakaian olahraga, mengalami penurunan pendapatan terburuk dalam lima tahun terakhir. Perusahaan ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penurunan minat konsumen hingga persaingan yang semakin ketat. Apa yang menyebabkan kemerosotan ini, dan bagaimana strategi Nike untuk bangkit kembali?

Penurunan Signifikan dalam Kinerja Keuangan

Menurut laporan terbaru, Nike mengalami penurunan pendapatan sebesar 11,5% menjadi $11,01 miliar pada kuartal ketiga tahun 2025. Angka ini merupakan yang terburuk sejak kuartal keempat tahun fiskal 2020, ketika pandemi Covid-19 menyebabkan penurunan hingga 38%.

Tak hanya itu, harga saham Nike telah turun sekitar 30% dalam satu tahun terakhir. Saham perusahaan bahkan mengalami penurunan sebesar 19% sejak September 2024, setelah CEO John Donahoe mengundurkan diri dan digantikan oleh Elliott Hill.

Faktor Penyebab Kemerosotan Nike

1. Penurunan Kunjungan Toko dan Unduhan Aplikasi

Data dari Sensor Tower menunjukkan bahwa unduhan aplikasi Nike turun hingga 35% dibandingkan periode sebelumnya. Selain itu, data dari Raymond James Financial mengungkapkan bahwa lalu lintas pelanggan di toko Nike juga menurun hingga 11%.

2. Dampak Strategi Diskon Besar-besaran

Nike menerapkan strategi “pesta diskon” untuk menghabiskan stok yang tidak terjual. Namun, langkah ini justru merugikan margin keuntungan mereka. Laporan dari Foot Locker, salah satu retailer utama Nike, menunjukkan bahwa tekanan promosi yang berlebihan berdampak negatif pada laba perusahaan.

3. Kegagalan Produk Baru

Salah satu penyebab utama penurunan penjualan Nike adalah kurangnya daya tarik produk baru mereka. Khususnya di Amerika Serikat, konsumen enggan membeli perlengkapan olahraga dan pakaian mahal. Analis Morningstar, David Swartz, menyatakan bahwa Nike perlu menciptakan lini produk baru dengan inovasi besar agar dapat meningkatkan kembali penjualan.

4. Persaingan Ketat dengan Merek Baru

Nike kini menghadapi persaingan yang lebih ketat dari merek-merek pendatang baru seperti Hoka dan On. Strategi perusahaan yang lebih mengutamakan penjualan daring dan memangkas jumlah pengecer fisik juga belum membuahkan hasil optimal.

Upaya Pemulihan Nike di Bawah CEO Elliott Hill

Sejak menjabat pada Oktober 2024, Elliott Hill mulai mengarahkan Nike untuk melakukan perubahan strategi. Beberapa langkah yang telah diambil di antaranya:

Tantangan yang Masih Menghantui Nike

Meski mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, Nike masih menghadapi beberapa tantangan besar:

Nike tengah berada dalam fase transisi yang penuh tantangan. Dengan strategi baru di bawah kepemimpinan Elliott Hill, perusahaan ini berusaha mengembalikan kejayaannya. Namun, pemulihan ini tidak akan terjadi secara instan. Inovasi produk, strategi pemasaran yang tepat, dan pemulihan hubungan dengan mitra pengecer menjadi kunci utama dalam membalikkan tren penurunan pendapatan mereka.