March 13, 2026 By RB

Sumber: Islam Times
13 Maret 2026 — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru setelah keterlibatan aktif Rusia dalam memberikan bantuan kemanusiaan dan dukungan strategis kepada Iran pasca-serangan udara besar-besaran oleh Amerika Serikat dan Israel. Langkah Kremlin ini mencerminkan kedalaman hubungan bilateral yang telah dibangun selama bertahun-tahun, sekaligus menunjukkan posisi tawar Rusia sebagai mediator potensial dalam konflik yang kian memanas di kawasan tersebut.
Presiden Vladimir Putin telah mengambil langkah nyata dengan memerintahkan Kementerian Situasi Darurat Rusia untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Iran pada Kamis, 12 Maret 2026. Bantuan seberat 13 ton tersebut berupa obat-obatan yang dikirimkan melalui Azerbaijan untuk kemudian diserahkan kepada otoritas resmi Teheran. Upaya ini dilakukan Rusia sebagai bentuk solidaritas terhadap sekutu dekatnya di tengah meningkatnya tekanan militer dari pihak Barat.
Selain bantuan fisik, Putin juga aktif melakukan manuver diplomatik untuk meredakan ketegangan. Pada Senin, 9 Maret 2026, Putin melakukan percakapan telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump guna membahas usulan penyelesaian konflik. Menurut ajudan kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, Putin menyampaikan beberapa gagasan substansial untuk mengakhiri perselisihan secara politik dan diplomatik. Ushakov menyatakan, “Izinkan saya mengatakan bahwa pertukaran ide yang sangat substansial, dan tanpa diragukan lagi bermanfaat, telah terjadi”.
Di balik dukungan kemanusiaan, muncul laporan mengenai keterlibatan Rusia dalam aspek intelijen. Berdasarkan laporan intelijen Amerika Serikat yang dilansir oleh Euronews dan The Washington Post, Rusia diduga telah memberikan informasi intelijen kepada Iran yang dapat digunakan untuk menargetkan aset militer AS di kawasan Teluk, termasuk kapal perang dan pesawat. Meskipun demikian, pihak intelijen AS belum menemukan bukti langsung bahwa Moskow memberikan arahan spesifik mengenai cara penggunaan data tersebut dalam konflik yang sedang berlangsung.
Meskipun hubungan kedua negara sangat erat, Kremlin menegaskan bahwa mereka tidak memasok persenjataan ke Iran dalam perang melawan AS dan Israel saat ini. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan pada Kamis, 5 Maret 2026, bahwa sejauh ini belum ada permintaan resmi dari pihak Teheran terkait bantuan senjata. “Mengenai situasi saat ini, belum ada permintaan dari Iran,” tegas Peskov, menekankan posisi konsisten Rusia dalam konflik tersebut.
Kerja sama militer dan politik antara kedua negara ini didasari oleh perjanjian kemitraan strategis yang ditandatangani pada tahun 2025. Perjanjian tersebut mencakup kerja sama dalam menghadapi ancaman bersama, meskipun tidak memiliki klausul kewajiban pertahanan bersama seperti pakta keamanan Rusia dengan Korea Utara. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan kepada NBC News bahwa kolaborasi ini bukanlah hal yang rahasia. Araghchi mengungkapkan, “Kerja sama militer antara Iran dan Rusia bukanlah rahasia. Kami telah bekerja sama di masa lalu, dan kerja sama ini berlanjut, dan saya berharap akan berlanjut di masa depan”.
Related Tags & Categories :