July 12, 2026 By RB

12 Juni 2026 – Film Obsession (2026) menjadi salah satu kejutan terbesar di genre horor tahun ini. Disutradarai oleh Curry Barker, film beranggaran rendah ini berhasil mencuri perhatian berkat premis sederhana yang berkembang menjadi kisah horor psikologis penuh ketegangan. Alih-alih mengandalkan hantu atau rumah berhantu, Obsession menawarkan teror yang lahir dari obsesi, cinta yang dipaksakan, dan hilangnya kehendak bebas seseorang. Tak heran jika film ini mendapat pujian sekaligus memancing perdebatan di kalangan kritikus.
Cerita mengikuti Bear (Michael Johnston), Nikki (Inde Navarrette), Ian (Cooper Tomlinson), dan Sarah (Megan Lawless), empat sahabat yang bekerja di sebuah toko musik milik ayah Sarah.
Bear diam-diam telah lama mencintai Nikki. Namun, karena takut ditolak, ia tak pernah mengungkapkan perasaannya. Ketika Nikki sempat menanyakan apakah Bear menyukainya, kesempatan itu justru disia-siakan.
Alih-alih jujur, Bear menggunakan benda mistis bernama One Wish Willow, sebuah mainan yang dipercaya mampu mengabulkan satu permintaan. Ia berharap Nikki mencintainya lebih dari siapa pun di dunia.
Keinginannya memang terkabul. Namun, cinta yang muncul bukanlah cinta yang sehat. Nikki berubah menjadi sosok yang terobsesi pada Bear hingga kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dari sinilah mimpi indah Bear berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan hidup semua orang di sekitarnya.
Performa Inde Navarrette menjadi salah satu kekuatan terbesar Obsession. Di awal film, Nikki digambarkan sebagai perempuan yang hangat, ramah, dan ceria. Setelah kutukan bekerja, transformasinya menjadi sosok yang menyeramkan terasa sangat meyakinkan.
Yang membuat penampilannya begitu kuat adalah ketika kesadaran Nikki sesekali berhasil mengambil alih kutukan tersebut. Dalam momen-momen singkat itu, Navarrette mampu memperlihatkan rasa takut, putus asa, hingga kehilangan kebebasan dengan ekspresi yang sangat emosional.
Sementara itu, Michael Johnston juga tampil solid sebagai Bear. Ia berhasil menggambarkan perubahan karakter dari pria pemalu yang tampak baik hati menjadi sosok egois yang terjebak dalam obsesinya sendiri.
Curry Barker memilih pendekatan horor psikologis dibandingkan mengandalkan jumpscare berlebihan.
Visual film didominasi warna abu-abu, cokelat, serta pencahayaan redup yang membuat hampir setiap adegan terasa suram. Rumah, lorong gelap, hingga toko musik disulap menjadi lokasi yang penuh rasa tidak nyaman.
Desain suara juga menjadi senjata utama film ini. Banyak adegan mengejutkan hadir melalui keheningan dan timing yang tepat, bukan karena dentuman musik keras.
Menariknya, Barker juga menyisipkan unsur dark comedy. Humor muncul di tengah situasi mengerikan sehingga menciptakan kontras yang membuat penonton tertawa sekaligus merasa tidak nyaman. Meski demikian, perpindahan antara komedi dan horor terkadang terasa cukup ekstrem bagi sebagian penonton.
Di balik kisah supernaturalnya, Obsession menyimpan kritik sosial yang cukup tajam.
Film ini menyoroti budaya incel, toxic masculinity, serta kecenderungan sebagian laki-laki yang menganggap perempuan sebagai sesuatu yang harus dimiliki. Ketidakmampuan Bear dalam menerima penolakan membuatnya memilih jalan pintas dengan memaksakan cinta melalui kekuatan mistis.
Semakin jauh cerita berjalan, semakin terlihat bahwa yang diinginkan Bear bukan lagi cinta, melainkan kontrol penuh atas kehidupan Nikki. Obsession kemudian menjadi alegori tentang bagaimana obsesi dapat menghapus identitas dan kebebasan seseorang.
Meski menuai banyak pujian, Obsession juga mendapat sejumlah kritik.
Beberapa kritikus menilai film ini terlalu berfokus pada sudut pandang Bear sehingga penderitaan Nikki kurang dieksplorasi secara mendalam. Ada pula yang menganggap representasi karakter perempuan dalam film ini masih menyisakan persoalan dan berpotensi mengarah pada pembacaan misoginis.
Selain itu, aturan mengenai One Wish Willow di awal cerita dinilai kurang dijelaskan, sementara transisi antara humor dan horor terkadang terasa kurang mulus.
Jawabannya adalah ya, terutama bagi pencinta horor psikologis.
Obsession bukan film yang mengandalkan jumpscare setiap beberapa menit. Terornya dibangun perlahan melalui atmosfer, akting para pemain, serta konflik emosional yang semakin intens menuju klimaks.
Walaupun memiliki beberapa kekurangan pada pengembangan karakter dan ritme cerita di awal, penampilan luar biasa Inde Navarrette, penyutradaraan kreatif Curry Barker, serta pesan sosial yang relevan menjadikan film ini sangat layak disaksikan.
Bagi penggemar film seperti The Substance, Smile, atau Watcher, Obsession menawarkan pengalaman horor yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga mengajak penonton merenungkan batas tipis antara cinta, obsesi, dan kebebasan seseorang. Bahkan, kesuksesan film ini di box office global yang menembus lebih dari 400 juta dolar AS menjadi bukti bahwa horor psikologis dengan cerita yang kuat masih memiliki tempat besar di hati penonton.
Related Tags & Categories :