September 19, 2026 By RB

Kapal induk eks-Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, resmi memasuki perairan Indonesia pada 17 September 2026 dan tiba di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, sehari kemudian. Kapal yang akan berganti nama menjadi KRI Sriwijaya ini menjadi kapal induk pertama dalam sejarah TNI Angkatan Laut.
Giuseppe Garibaldi merupakan kapal perang buatan Italia yang dibangun Fincantieri dan mulai digunakan Angkatan Laut Italia pada 1985. Kapal ini pertama kali diluncurkan pada 1983 dan dirancang sebagai kapal induk dengan kemampuan operasi pesawat lepas landas jarak pendek serta pendaratan vertikal atau STOVL.
Dalam konfigurasi aslinya, Garibaldi dapat menjalankan sejumlah misi, mulai dari peperangan antikapal selam, komando dan pengendalian pasukan, pengawasan wilayah, pengawalan konvoi hingga dukungan logistik armada. Kapal ini juga pernah mengoperasikan pesawat AV-8B Harrier II Plus serta berbagai jenis helikopter.
Ketika memasuki Indonesia pada 2026, usia Garibaldi telah mencapai lebih dari empat dekade. Kapal tersebut sebelumnya ditempatkan dalam status cadangan administratif pada akhir 2024 sebelum pemerintah Italia memutuskan mentransfernya kepada Indonesia. Karena usia dan perbedaan kebutuhan operasional, kapal membutuhkan retrofit serta penyesuaian sistem sebelum dapat digunakan secara penuh oleh TNI AL.
Garibaldi memiliki panjang sekitar 180,2 meter dengan lebar maksimum geladak penerbangan sekitar 30,4 meter. Bobotnya mencapai sekitar 13.850 ton dalam kondisi penuh. Kapal ini mampu melaju hingga 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam dan memiliki jarak jelajah sekitar 7.000 mil laut.
Untuk bergerak, kapal menggunakan empat turbin gas FIAT/GE LM2500 yang bekerja dengan konfigurasi Combined Gas Turbine and Gas Turbine atau COGAG. Sistem tersebut menghasilkan daya sekitar 60,4 MW dan menggerakkan dua poros propeler.
Selain turbin gas, Garibaldi memiliki enam generator diesel Grand Motori Trieste B230/12. Generator ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik berbagai sistem kapal, termasuk radar, navigasi dan instrumen lainnya.
Geladak penerbangan Garibaldi memiliki panjang sekitar 174 meter dan lebar 30,5 meter. Bagian depan geladak dilengkapi ski jump dengan kemiringan sekitar 4 derajat.
Dalam konfigurasi Angkatan Laut Italia, kapal dapat membawa hingga 18 helikopter atau kombinasi pesawat dan helikopter. Garibaldi juga pernah digunakan untuk mengoperasikan AV-8B Harrier II yang memiliki kemampuan STOVL.
Untuk Indonesia, kapal ini direncanakan lebih diarahkan sebagai platform helikopter dan sistem nirawak. Selain itu, Garibaldi juga diproyeksikan menjalankan fungsi sebagai kapal komando serta pendukung operasi kemanusiaan, bukan sebagai kapal induk jet tempur seperti ketika masih digunakan Italia.
Meski merupakan kapal induk, Garibaldi juga mempunyai sistem pertahanan diri yang terdiri dari rudal, meriam, torpedo serta berbagai sistem pendeteksi dan pengelabuan.
Garibaldi dilengkapi dua peluncur sistem Albatros yang masing-masing memiliki delapan sel. Sistem tersebut menggunakan rudal Aspide dengan total kapasitas 48 rudal.
Rudal Aspide memiliki sistem pencari radar semiaktif dan jangkauan hingga sekitar 14 kilometer. Sistem ini digunakan untuk pertahanan terhadap ancaman udara.
Untuk pertahanan jarak dekat, Garibaldi memiliki tiga meriam kembar 40 mm/70. Sistem tersebut memiliki kecepatan tembak hingga 300 peluru per menit dan dapat digunakan menghadapi sasaran udara maupun permukaan.
Kapal juga dilengkapi dua peluncur torpedo tiga tabung ILAS 3 berkaliber 324 mm. Peluncur tersebut dapat digunakan untuk menembakkan torpedo ringan seperti Mk 46 atau A-244.
Sementara itu, sistem pertahanan kapal turut diperkuat dengan perangkat peringatan radar, pengacau radar, umpan torpedo dan sistem peluncur chaff maupun umpan inframerah.
Kemampuan deteksi menjadi salah satu bagian penting dari sistem kapal. Garibaldi menggunakan sejumlah radar untuk mendeteksi sasaran udara dan permukaan.
Radar pengawasan tiga dimensi Raytheon AN/SPS-52C disebut memiliki jangkauan lebih dari 400 kilometer. Kapal juga memiliki radar pencari udara jarak jauh dengan jangkauan lebih dari 200 kilometer serta radar pencari udara dan permukaan jarak menengah dengan jangkauan lebih dari 150 kilometer.
Selain radar, Garibaldi dilengkapi sonar pencari aktif frekuensi rendah DE 1160 yang ditempatkan di bagian haluan kapal untuk mendukung kemampuan peperangan antikapal selam.
Indonesia menerima Garibaldi melalui skema hibah dari pemerintah Italia. Meski lambung kapal tidak dibeli, proses transfer dan persiapan tetap membutuhkan biaya. Dokumen pemerintah Italia mencatat biaya terkait persiapan transfer mencapai sekitar 54,02 juta euro, sementara biaya retrofit dan modernisasi menjadi bagian lain yang perlu diperhitungkan.
TNI AL telah memastikan kapal tersebut akan menggunakan nama KRI Sriwijaya. Nama tersebut merujuk pada kerajaan maritim Sriwijaya yang pernah berkembang di Sumatra dan memiliki pengaruh luas di Asia Tenggara.
Setelah memasuki perairan Indonesia, Garibaldi dikawal KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321. TNI AL juga menyiapkan latihan lintas matra menggunakan sejumlah helikopter untuk membiasakan awak udara Indonesia menjalankan operasi dari geladak kapal.
Kehadiran KRI Sriwijaya sekaligus menandai babak baru bagi TNI AL. Tantangannya tidak hanya terletak pada pengoperasian kapal, tetapi juga membangun ekosistem pendukung seperti awak, pemeliharaan, bahan bakar, sistem penerbangan, suku cadang dan doktrin operasi.