August 10, 2026 By RB

10 Agustus 2026 – Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan langkah besar untuk mendesain ulang dan mencetak ulang buku pelajaran sekolah. Arahan Presiden Prabowo Subianto tidak hanya berfokus pada tampilan fisik buku, tetapi juga menyentuh kualitas kertas, ukuran huruf, hingga kenyamanan membaca bagi siswa SD sampai SMA. Kebijakan ini muncul di tengah tren global yang mulai mengkritik digitalisasi pendidikan yang terlalu agresif dan kembali menempatkan buku cetak sebagai instrumen penting dalam membangun literasi dan konsentrasi belajar anak.
Gagasan pembaruan buku pelajaran bermula dari peninjauan Presiden Prabowo ke Sekolah Rakyat Menengah Atas Margaguna di Jakarta Selatan. Dalam kunjungan tersebut, Presiden mengevaluasi langsung buku-buku yang digunakan siswa dan menemukan sejumlah persoalan, mulai dari kualitas kertas yang mudah rusak hingga ukuran huruf yang terlalu kecil untuk anak-anak. Pemerintah kemudian menegaskan bahwa evaluasi difokuskan pada bahan baku kertas, kenyamanan visual, dan tata letak tipografi agar lebih ramah bagi perkembangan penglihatan siswa. Ukuran huruf 11–12 poin dinilai membuat anak harus membaca dari jarak terlalu dekat sehingga berisiko menimbulkan kelelahan visual dan menurunkan fokus belajar.
Pemerintah juga berencana menggunakan material cetak yang lebih tahan lama sehingga buku tidak lagi dipandang sebagai barang sekali pakai. Buku diharapkan dapat diwariskan atau dipinjamkan kembali kepada siswa pada tahun ajaran berikutnya, menghidupkan kembali tradisi preservasi ilmu yang pernah kuat dalam budaya pendidikan Indonesia. Untuk menjaga standar mutu, literatur domestik bahkan akan dibandingkan dengan buku ajar dari Singapura dan Malaysia sebagai acuan penyempurnaan.
Reformasi ini tidak berhenti pada buku bacaan. Pemerintah juga menyiapkan buku tulis dengan garis panduan yang lebih lebar untuk siswa kelas 1 hingga 3 SD. Kebijakan tersebut didasarkan pada temuan bahwa banyak anak usia dini menulis dengan ukuran huruf terlalu kecil. Garis yang lebih lebar diyakini membantu koordinasi mata dan tangan, memperkuat kontrol motorik halus, serta membentuk jejak memori yang lebih kuat ketika anak belajar menulis huruf secara manual.
Meski menekankan pentingnya buku fisik, pemerintah tidak sepenuhnya meninggalkan teknologi. Pendekatan yang dipilih adalah model hibrida selektif. Siswa tetap membaca dan menulis menggunakan buku fisik, sementara ruang kelas Sekolah Rakyat direncanakan dilengkapi layar digital pintar atau televisi cerdas yang digunakan guru untuk menampilkan materi visual dan animasi edukatif. Dengan demikian, teknologi berfungsi sebagai alat bantu demonstrasi, bukan sebagai layar personal yang menyita perhatian siswa sepanjang waktu.
Berbagai penelitian yang dikutip dalam laporan menunjukkan bahwa otak memproses informasi dari layar dan dari kertas dengan cara yang berbeda. Fenomena yang dikenal sebagai Screen Inferiority Effect menunjukkan bahwa membaca melalui layar cenderung menghasilkan pemahaman yang lebih dangkal dibanding membaca materi cetak. Lingkungan digital yang penuh notifikasi dan distraksi membuat pembaca lebih sering memindai teks secara cepat daripada melakukan deep reading yang diperlukan untuk penalaran abstrak dan pemahaman mendalam.
Studi NTNU Norwegia tahun 2024 yang menggunakan teknologi High-Density EEG menemukan bahwa aktivitas menulis tangan mengaktifkan jaringan saraf yang jauh lebih luas dibanding mengetik di keyboard. Menulis manual melibatkan koordinasi visual, sentuhan, dan gerakan motorik halus sehingga menghasilkan deeper memory trace atau jejak memori yang lebih kuat dan lebih tahan lama. Temuan ini menjadi salah satu dasar ilmiah yang mendukung penguatan kembali aktivitas menulis tangan di sekolah dasar.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa Indonesia tidak sendirian. Swedia, yang pernah sangat agresif menerapkan digitalisasi pendidikan, kini mengalokasikan anggaran besar untuk pengadaan buku fisik dan mengurangi penggunaan layar pada pendidikan usia dini setelah skor literasi membaca mengalami penurunan. Menteri Sekolah Swedia bahkan menyebut bahwa “digitalisasi massal di sekolah adalah sebuah kesalahan besar”.
Norwegia menempuh langkah serupa dengan membatasi penggunaan AI generatif untuk siswa sekolah dasar dan memperketat penggunaan gawai di lingkungan pendidikan. Prancis, Spanyol, dan Belanda juga menerapkan pembatasan ponsel di sekolah demi memperbaiki konsentrasi belajar, interaksi sosial, dan kesehatan mental siswa.
Kebijakan ini tentu membutuhkan biaya besar. Mencetak buku berkualitas tinggi untuk puluhan juta siswa memerlukan investasi ratusan miliar rupiah. Namun laporan menilai pengeluaran tersebut sebagai investasi kognitif jangka panjang, bukan sekadar biaya rutin pendidikan. Tantangan lain adalah menjaga stabilitas kurikulum agar buku yang sudah dicetak dengan kualitas premium tidak cepat menjadi usang akibat perubahan kurikulum yang terlalu sering.
Rencana Prabowo mencetak ulang dan mendesain ulang buku pelajaran menunjukkan bahwa Indonesia sedang bergerak menuju paradigma pendidikan yang lebih seimbang antara teknologi dan kebutuhan biologis otak anak. Buku fisik, tulisan tangan, dan pembatasan distraksi digital dipandang bukan sebagai langkah mundur, melainkan sebagai bentuk perlindungan terhadap kemampuan konsentrasi, memori jangka panjang, dan empati generasi muda. Di tengah derasnya arus digitalisasi, kebijakan ini menempatkan buku cetak kembali sebagai fondasi utama literasi dan pembelajaran mendalam di sekolah Indonesia.