May 18, 2026 By RB

Langkah strategis diambil oleh Pemerintah Indonesia dalam mempercepat transformasi industri nasional guna melepaskan ketergantungan pada produk impor. Melalui peresmian yang berpusat di Refinery Unit IV Cilacap, Jawa Tengah, Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi membuka groundbreaking hilirisasi nasional tahap II yang mencakup 13 proyek strategis. Dengan total nilai investasi yang fantastis mencapai Rp116 triliun, megaproyek ini diharapkan menjadi katalisator utama dalam memperkuat kedaulatan energi, mineral, hingga ketahanan pangan di tanah air.
Dalam sambutannya di Cilacap, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pengolahan sumber daya alam (SDA) di dalam negeri bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan demi masa depan ekonomi Indonesia. Beliau secara lugas menyatakan:
“Hilirisasi adalah jalan satu-satunya untuk kita bisa lebih makmur,” terang Prabowo.
Lebih lanjut, beliau menambahkan bahwa hilirisasi merupakan kunci utama menuju kebangkitan bangsa.
“Groundbreaking hilirisasi II kedua yang mencakup 13 proyek strategis hilirisasi, senilai kurang lebih Rp 116 triliun, meliputi 5 proyek di sektor energi, 5 proyek di sektor mineral, 3 proyek di sektor pertanian,” ujarnya.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Roeslani, juga menambahkan bahwa langkah ini adalah awal dari lompatan besar. Pemerintah berkomitmen untuk memastikan bahwa Indonesia tidak hanya kaya secara mentah, tetapi juga berdaulat dalam pengolahan, unggul dalam produksi, dan sejahtera dalam hasilnya.
Tidak berhenti di tahap ini, pemerintah bahkan sudah merencanakan ekspansi masif dalam waktu dekat.
“Tadi sudah disebut hilirisasi tahap pertama ada 13 proyek di 13 lokasi dan beberapa saat ini tahun ini juga kita akan tambah hilirisasi 6 lagi proyek, dan terus menerus akan kita tambah. mungkin ada tahap ke 4, 5, 6, Insya Allah tahun ini juga,” terang Presiden Prabowo.
Sektor energi menyerap porsi besar dalam hilirisasi tahap II ini dengan fokus utama mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat rantai pasok domestik.
Proyek pertama dan kedua difokuskan pada pengembangan kapasitas kilang gasoline pada fasilitas eksisting RU II Dumai (Riau) dan RU IV Cilacap (Jawa Tengah). Proyek yang dikelola oleh PT Pertamina (Persero) ini memiliki total kapasitas 62 MBSD dan ditargetkan onstream pada Q4 2030. Manfaat strategisnya meliputi substitusi impor gasoline hingga 2 juta KL per tahun (setara 9,47% gap supply-demand nasional), mendukung pemenuhan Pertamax Series domestik, serta menurunkan impor produk sampingan seperti propylene dan LPG.
Untuk meminimalkan kesenjangan harga antarwilayah dan memperkuat keandalan distribusi, Pertamina Patra Niaga membangun tiga Terminal BBM baru. Berlokasi di Palaran, Kalimantan Timur (kapasitas 37 ribu KL); Biak, Papua (46 ribu KL); dan Maumere, NTT (70 ribu KL). Tambahan total kapasitas sebesar 153 ribu KL ini akan menaikkan kapasitas penyimpanan nasional sebesar 3,1%. Proyek di Maumere ditargetkan onstream pada 2027, menyusul Palaran dan Biak pada 2028.
Menjadi salah satu proyek yang paling disorot, proyek di Sumatera Selatan ini diinisiasi oleh BPI Danantara dan dijalankan oleh MIND ID bersama PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebagai operator, serta Pertamina Patra Niaga selaku off-taker. Fasilitas ini dirancang memproduksi Dimethyl Ether (DME) berkapasitas 1,4 juta ton per tahun guna mensubstitusi LPG impor yang saat ini masih memenuhi 80% kebutuhan pasar nasional.
Melalui kolaborasi BUMN dan mitra strategis global, sektor mineral diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tambang lokal secara signifikan.
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk berkolaborasi dengan Tsingshan Group membangun fasilitas produksi stainless steel slab berkapasitas 1,2 juta ton per tahun di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah. Proyek ini memaksimalkan nikel lokal melalui proses peleburan modern.
Masih digawangi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, kali ini bermitra dengan Xin Hai Group di Cilegon, Banten. Proyek ini memodernisasi fasilitas eksisting untuk memproduksi steel slab berbasis bijih besi lokal dengan kapasitas 1,5 juta ton per tahun, memperkuat fondasi industrialisasi dan efisiensi infrastruktur nasional.
Dijalankan oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk, proyek di Jawa Barat ini menargetkan lonjakan pemanfaatan Aspal Buton secara masif, dari yang hanya 5 ribu ton pada 2025 menjadi 300 ribu ton pada tahun 2030.
Dikembangkan oleh PT Mineral Industri Indonesia (Persero) bersama PT Len Industri (Persero) di Jawa Timur. Proyek ini mencakup pembangunan fasilitas Brass Mill, Brass Cup, dan manufaktur logam mulia berbasis anode slime untuk membuka lapangan kerja bernilai tambah tinggi.
Tidak hanya fokus pada energi dan tambang, hilirisasi tahap II memberikan ruang besar bagi sektor agrikultur untuk meningkatkan kesejahteraan petani daerah.
Berlokasi di Sumatera Utara, proyek ini dirancang khusus untuk mendongkrak nilai tambah kelapa sawit nasional, sekaligus memperkuat ketahanan energi melalui pasokan biodiesel domestik.
PT Perkebunan Nusantara III (Persero) membangun fasilitas pengolahan di Maluku untuk menyerap komoditas pala lokal. Hasil olahan berupa oleoresin akan memberikan pendapatan yang jauh lebih tinggi bagi para petani lokal dibanding menjual bahan mentah.
Juga dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara III (Persero), proyek integrasi ini mengolah kelapa menjadi produk turunan bernilai tinggi berskala global, yaitu MCT (Medium-Chain Triglycerides), coconut flour, dan activated carbon.
Secara keseluruhan, realisasi 13 proyek hilirisasi tahap II ini memegang peranan krusial sebagai fondasi ekonomi baru Indonesia. Selain memberikan efisiensi devisa yang signifikan berkat pemangkasan angka impor energi, proyek lintas sektor ini diproyeksikan akan membuka ribuan lapangan pekerjaan baru di berbagai wilayah Indonesia. Mulai dari wilayah barat di Dumai hingga wilayah timur di Papua dan Maluku, pemerataan pembangunan ekonomi kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang sedang berjalan.