September 14, 2026 By RB

Desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) menjadi salah satu istilah yang semakin sering dibicarakan karena berkaitan dengan pemetaan kesejahteraan dan penentuan sasaran berbagai program pemerintah. Sistem ini membagi keluarga di Indonesia ke dalam 10 kelompok berdasarkan posisi relatif kesejahteraan sosial ekonominya, mulai dari desil 1 hingga desil 10.
Secara statistik, desil merupakan metode untuk membagi suatu populasi menjadi 10 kelompok dengan jumlah anggota yang relatif sama. Dalam DTSEN, setiap desil mencakup sekitar 10 persen keluarga di Indonesia. Desil 1 menunjukkan kelompok dengan posisi kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 berada pada posisi relatif paling tinggi.
Hal penting yang perlu dipahami adalah desil bukan ukuran mutlak mengenai jumlah penghasilan atau kekayaan seseorang. BPS juga menegaskan bahwa angka desil merupakan gambaran posisi relatif sebuah keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi. Karena itu, keluarga yang berada dalam desil tertentu belum tentu memiliki pendapatan atau pengeluaran yang sama.
Pembagian desil dapat dipahami sebagai urutan posisi kesejahteraan relatif. Desil 1 berada pada 10 persen terbawah, sementara desil 10 berada pada 10 persen teratas. Di antara keduanya terdapat Desil 2 hingga Desil 9 yang menggambarkan posisi relatif keluarga dalam distribusi kesejahteraan nasional.
Dalam praktik kebijakan sosial, kelompok desil bawah menjadi salah satu informasi penting untuk menentukan sasaran bantuan. Namun, berada di desil tertentu tidak otomatis berarti seseorang pasti menerima bantuan sosial. Kelayakan tetap bergantung pada kriteria dan ketentuan masing-masing program.
Penentuan desil tidak hanya melihat satu indikator seperti gaji, pekerjaan atau kepemilikan kendaraan. Sistem DTSEN menggunakan berbagai karakteristik sosial ekonomi yang dikombinasikan untuk memperkirakan posisi kesejahteraan keluarga. BPS menyebut sejumlah variabel yang dipertimbangkan mencakup kondisi perumahan, sumber air, energi untuk memasak, kepemilikan aset, listrik, komposisi keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan dan disabilitas.
Salah satu metode yang digunakan dalam pemeringkatan adalah Proxy Means Testing atau PMT. Pendekatan ini digunakan untuk memperkirakan kesejahteraan berdasarkan karakteristik yang dapat diamati ketika informasi pendapatan atau konsumsi rumah tangga tidak selalu tersedia secara lengkap.
Dalam bahan analisis, indikator yang digunakan mencakup kondisi rumah dan sanitasi, kepemilikan aset, demografi, pendidikan serta ketenagakerjaan. Data tersebut kemudian digunakan untuk menghasilkan skor yang selanjutnya diperingkatkan secara nasional. Batas setiap kelompok 10 persen menjadi dasar pembentukan desil.
Desil bersifat dinamis. Perubahan kondisi sosial ekonomi sebuah keluarga maupun perubahan posisi relatifnya terhadap keluarga lain dapat memengaruhi hasil pemeringkatan. BPS menjelaskan bahwa pemutakhiran DTSEN dilakukan secara berkala dengan memanfaatkan berbagai sumber data, termasuk data administrasi dan pengecekan lapangan.
Karena sifatnya relatif, perubahan desil tidak selalu berarti kondisi ekonomi seseorang tiba-tiba membaik atau memburuk dalam jumlah tertentu. Misalnya, posisi suatu keluarga dapat berubah ketika data keluarga lain diperbarui atau ketika terdapat perubahan pada keseluruhan populasi yang menjadi dasar pemeringkatan.
Desil digunakan pemerintah sebagai salah satu instrumen untuk membantu menentukan sasaran program perlindungan sosial. Berdasarkan informasi resmi Cek Bansos Kemensos, desil 1 hingga 4 dapat diusulkan sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sembako, sementara desil 5 dapat diusulkan sebagai peserta PBI-JK sesuai ketentuan program.
Namun, desil bukan daftar otomatis penerima bantuan. Setiap program memiliki persyaratan dan mekanisme penetapan masing-masing. Bahan analisis juga menekankan bahwa keluarga pada desil rendah tetap perlu memenuhi komponen tertentu untuk program spesifik, seperti PKH.
Dengan demikian, memahami desil tidak cukup hanya dengan melihat angka 1 sampai 10. Desil perlu dibaca sebagai posisi relatif kesejahteraan yang dibentuk dari berbagai data sosial ekonomi. Pemutakhiran data dan verifikasi kondisi di lapangan juga menjadi bagian penting agar klasifikasi tersebut semakin sesuai dengan keadaan masyarakat.