Leet Media

Ketergantungan Indonesia pada Singapura Terungkap, dari Internet hingga Pasokan BBM

October 29, 2026 By RB

Hubungan ekonomi Indonesia dan Singapura ternyata menyimpan ketergantungan yang cukup besar di berbagai sektor strategis. Mulai dari infrastruktur internet, pasokan bahan bakar minyak (BBM), investasi, hingga layanan kesehatan, Singapura selama ini berperan sebagai pusat penghubung bagi banyak kebutuhan Indonesia. Situasi tersebut kembali menjadi sorotan setelah muncul polemik pemangkasan ekspor gas Indonesia ke Singapura pada Oktober 2026, yang turut memunculkan perdebatan mengenai ketahanan infrastruktur digital nasional.

Ketegangan Indonesia dan Singapura Berawal dari Pemangkasan Ekspor Gas

Polemik antara Indonesia dan Singapura bermula ketika pemerintah Indonesia memangkas alokasi ekspor gas alam melalui pipa sebesar 31 miliar British thermal unit per hari (BBTUD) pada Sabtu, 24 Oktober 2026.

Pemangkasan tersebut terdiri atas 15 BBTUD dari lapangan gas Kepulauan Natuna dan 16 BBTUD dari wilayah kerja Sumatra. Pemerintah mengalihkan pasokan tersebut untuk memenuhi kebutuhan listrik dan industri domestik, terutama di Batam, Bintan, serta daratan Sumatra.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut pengurangan tersebut setara dengan sekitar 8 persen dari total komitmen penyaluran. Kebijakan ini diklaim masih berada dalam batas aman kontrak minimum dan tidak melanggar perjanjian internasional.

Situasi kemudian memanas setelah mantan anggota parlemen Singapura, Calvin Cheng Ern Lee, mengunggah infografis bertajuk “Indonesia’s Internet Dependence on Singapore” melalui akun X miliknya pada 25 Oktober 2026. Ia menyoroti ketergantungan sekitar 90 persen trafik internet internasional Indonesia terhadap Singapura, disertai pertanyaan provokatif, “Cut?”

Namun, unggahan tersebut bukan ancaman resmi pemerintah Singapura. Polemik itu merupakan pernyataan individual seorang mantan politisi yang kemudian memicu perdebatan mengenai kerentanan infrastruktur digital Indonesia.

Sekitar 90 Persen Trafik Internet Indonesia Bergantung pada Singapura

Ketergantungan Indonesia terhadap Singapura dalam sektor digital berkaitan dengan konsentrasi infrastruktur jaringan internasional di negara tersebut.

Singapura menjadi titik pendaratan bagi lebih dari 26 sistem kabel bawah laut internasional yang menghubungkan Eropa, Timur Tengah, dan Asia Timur. Banyak operator telekomunikasi Indonesia membangun koneksi dari Jakarta dan Batam menuju Singapura untuk mendapatkan akses ke jaringan internet global.

Selain kabel bawah laut, perusahaan teknologi global dan penyedia layanan cloud juga menempatkan pusat interkoneksi serta infrastruktur server mereka di Singapura.

Kondisi tersebut membuat sebagian besar trafik internet internasional Indonesia melewati ekosistem digital negara tetangga tersebut. Ketergantungan ini bukan semata persoalan politik, melainkan terbentuk dari perkembangan infrastruktur dan efisiensi jaringan selama bertahun-tahun.

Meski demikian, posisi Singapura tidak sepenuhnya bebas dari ketergantungan terhadap Indonesia. Jalur kabel bawah laut internasional yang menuju Singapura turut melintasi perairan Indonesia. Berdasarkan kalkulasi Kementerian Komunikasi dan Digital, gangguan pada jalur tersebut berpotensi melumpuhkan sekitar 80 persen kapasitas konektivitas internasional Singapura.

Ketergantungan Indonesia terhadap Singapura Meluas ke Berbagai Sektor

Impor BBM dan Bensin

Salah satu ketergantungan terbesar Indonesia terlihat pada sektor energi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Singapura memasok sekitar 54,3 persen dari total impor produk BBM Indonesia sepanjang 2024.

Nilai impor tersebut mencapai USD 11,40 miliar atau setara Rp188,85 triliun. Ketergantungan semakin terlihat pada komoditas bensin. Data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM mencatat sekitar 63 persen kebutuhan impor bensin Indonesia pada 2025 berasal dari Singapura.

Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, pemerintah mengandalkan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan. Proyek ini meningkatkan kapasitas pengolahan minyak dari 260.000 menjadi 360.000 barel per hari dan menambah produksi bensin sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun.

Investasi dan Penyimpanan Kekayaan

Singapura juga menjadi sumber investasi asing terbesar bagi Indonesia. Berdasarkan data BKPM, realisasi investasi Singapura ke Indonesia mencapai USD 17,4 miliar atau sekitar Rp278,51 triliun pada 2025.

Di sisi lain, Singapura menjadi salah satu lokasi utama penyimpanan kekayaan warga negara Indonesia di luar negeri. Data Program Pengungkapan Sukarela atau Tax Amnesty Jilid II mencatat deklarasi harta bersih WNI di Singapura mencapai Rp56,96 triliun dari 7.997 wajib pajak.

Logistik dan Pelabuhan

Ketergantungan berikutnya terdapat pada sektor logistik maritim. Pelabuhan Singapura berperan sebagai pusat transshipment atau pemindahan muatan sebelum dikirim menuju negara tujuan akhir.

Data Pelindo menunjukkan sekitar 95 persen kargo ekspor asal Pelabuhan Belawan tidak langsung menuju negara tujuan, melainkan harus singgah di pelabuhan Malaysia dan Singapura.

Kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap defisit neraca jasa transportasi Indonesia. Bank Indonesia mencatat defisit biaya pengangkutan barang laut mencapai USD 6,232 miliar pada 2021.

Layanan Kesehatan dan Pendidikan

Ketergantungan juga terlihat dari banyaknya masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri. Sekitar 750.000 WNI diperkirakan mengakses layanan kesehatan di Singapura setiap tahun.

Secara keseluruhan, arus masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri diperkirakan menyebabkan kebocoran devisa Rp165 triliun hingga Rp200 triliun per tahun.

Sementara itu, Singapura juga menjadi tujuan pendidikan bagi sekitar 10.000 hingga 24.000 pelajar dan mahasiswa Indonesia. Reputasi universitas seperti National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU) menjadi salah satu faktor yang menarik mahasiswa Indonesia.

Indonesia Mulai Membangun Kemandirian Infrastruktur Strategis

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap Singapura, Indonesia mulai mengembangkan sejumlah infrastruktur alternatif.

Salah satunya adalah Bifrost Cable System, kabel bawah laut trans-Pasifik sepanjang lebih dari 20.000 kilometer yang menghubungkan Indonesia dan Singapura secara langsung dengan Pantai Barat Amerika Serikat. Kehadiran titik pendaratan di Manado juga menjadikan wilayah tersebut sebagai gerbang digital internasional kedua Indonesia setelah Batam.

Di sektor kesehatan, pemerintah mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur di Bali melalui Bali International Hospital. Fasilitas tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan layanan medis dalam negeri sekaligus mengurangi masyarakat yang berobat ke luar negeri.

Sementara itu, RDMP Kilang Balikpapan menjadi salah satu upaya memperkuat kapasitas produksi BBM nasional.

Berbagai proyek tersebut menunjukkan bahwa pengurangan ketergantungan Indonesia terhadap Singapura tidak cukup dilakukan melalui kebijakan perdagangan. Pemerintah juga perlu memperkuat infrastruktur, kapasitas industri, serta kualitas layanan domestik.

Pada akhirnya, hubungan Indonesia dan Singapura bukanlah ketergantungan satu arah. Keduanya memiliki kepentingan ekonomi yang saling terhubung. Tantangan Indonesia adalah meningkatkan kapasitas nasional agar hubungan bilateral tersebut berlangsung lebih seimbang, tanpa mengorbankan stabilitas kerja sama ekonomi kedua negara.

Related Tags & Categories :

Leet OG

Leethania