Leet Media

Jejak Buku Karya Presiden Indonesia dari Soekarno hingga Prabowo

September 21, 2026 By RB

Buku menjadi salah satu medium penting bagi sejumlah Presiden Indonesia untuk merekam pengalaman, gagasan, hingga pandangan mereka mengenai negara. Dari Soekarno yang menggunakan tulisan sebagai bagian dari perjuangan antikolonial, hingga Prabowo Subianto yang menuangkan gagasan ekonomi dan transformasi bangsa, karya-karya tersebut memperlihatkan beragam corak pemikiran politik Indonesia. Di sisi lain, polemik buku Islam ala Prabowo pada 2026 kembali memunculkan perbincangan mengenai perbedaan antara buku yang ditulis langsung oleh seorang presiden dan karya yang ditulis pihak lain mengenai dirinya.

Soekarno dan buku sebagai alat perjuangan

Presiden pertama Indonesia Soekarno dikenal sebagai salah satu presiden yang produktif menulis. Beberapa karya yang menonjol antara lain Indonesia Menggugat, Sarinah, serta Di Bawah Bendera Revolusi.

Indonesia Menggugat awalnya merupakan nota pembelaan yang dibacakan Soekarno dalam persidangan kolonial di Bandung pada 1930. Tulisan tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu dokumen penting dalam pemikiran politik Soekarno karena membahas imperialisme, kapitalisme, kolonialisme, serta kondisi rakyat Indonesia.

Sementara itu, Sarinah yang terbit pada 1947 membahas posisi perempuan dalam perjuangan bangsa. Adapun Di Bawah Bendera Revolusi menghimpun berbagai tulisan dan pidato Soekarno yang merekam perkembangan gagasannya mengenai nasionalisme, Islamisme, Marhaenisme, hingga perjuangan kemerdekaan.

Soeharto dan narasi sejarah Orde Baru

Presiden kedua Soeharto memiliki karya otobiografi berjudul Soeharto Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya yang diterbitkan pada 1989. Buku tersebut disusun berdasarkan paparan Soeharto dan kemudian dinarasikan oleh G. Dwipayana serta Ramadhan K.H.

Isi buku menelusuri perjalanan Soeharto sejak masa kecil, karier militer, hingga masa kepemimpinannya sebagai presiden. Sejumlah peristiwa penting seperti G30S, Supersemar, kebijakan keamanan, dan pembangunan ekonomi juga dibahas dari sudut pandang Soeharto.

Karena itu, buku tersebut menjadi salah satu sumber penting untuk memahami bagaimana pemerintahan Orde Baru menjelaskan sejarah dan kebijakan politiknya kepada publik.

Habibie dan catatan masa transisi demokrasi

B.J. Habibie menuangkan pengalaman kepresidenannya melalui Detik-Detik yang Menentukan Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi. Buku yang terbit pada 2006 tersebut disusun berdasarkan catatan harian pribadi, dokumen, dan laporan yang diperoleh selama masa pemerintahannya.

Habibie menguraikan situasi Indonesia setelah pengunduran diri Soeharto pada 1998, termasuk krisis ekonomi, demonstrasi mahasiswa, kerusuhan, serta proses menuju Pemilu 1999.

Buku ini juga memuat kisah mengenai ketegangan politik dan militer pada masa transisi, termasuk keputusan pencopotan Prabowo Subianto dari jabatan Pangkostrad pada Mei 1998.

Gus Dur dan gagasan Islam yang inklusif

Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dikenal sebagai presiden sekaligus intelektual yang produktif menulis. Dua karya yang banyak merepresentasikan pemikirannya adalah Tuhan Tidak Perlu Dibela dan Islamku, Islam Anda, Islam Kita.

Tulisan-tulisan Gus Dur banyak membahas pluralisme, hubungan agama dan budaya, serta kritik terhadap formalisme keagamaan. Gagasan pribumisasi Islam menjadi salah satu konsep yang sering dikaitkan dengan pemikirannya.

Melalui karya-karya tersebut, Gus Dur menempatkan keberagaman pengalaman keagamaan dan kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Megawati dan SBY meninggalkan catatan politik

Megawati Soekarnoputri menerbitkan Bendera Sudah Saya Kibarkan pada 1993. Buku tersebut berisi pokok-pokok pemikiran politiknya ketika menghadapi situasi politik Orde Baru dan menjadi bagian dari perjalanan politiknya sebelum menjadi presiden.

Sementara itu, Susilo Bambang Yudhoyono menerbitkan Selalu Ada Pilihan pada 2014. Buku tersebut berisi pengalaman SBY selama memimpin Indonesia serta refleksinya mengenai pemerintahan, demokrasi, politik, dan komunikasi dengan masyarakat. Katalog perpustakaan pemerintah mencatat buku tersebut diterbitkan pada 2014 oleh Kompas dan memiliki lebih dari 800 halaman.

Jokowi lebih banyak menjadi subjek buku

Berbeda dengan sejumlah pendahulunya, bahan yang tersedia dalam dokumen mencatat Joko Widodo tidak memiliki karya ideologis atau memoar komprehensif yang ditulis secara mandiri. Namanya justru banyak muncul dalam buku yang ditulis pihak lain.

Karya mengenai Jokowi hadir dalam beragam bentuk, mulai dari biografi hingga buku yang berisi kritik dan kontroversi. Kondisi tersebut membuat posisi Jokowi dalam literatur kepresidenan berbeda dibandingkan presiden yang secara langsung menuangkan gagasan mereka dalam buku.

Prabowo dan gagasan transformasi Indonesia

Prabowo Subianto memiliki sejumlah karya yang membahas kepemimpinan militer, ekonomi, dan arah pembangunan Indonesia. Di antaranya Kepemimpinan Militer Catatan dari Pengalaman, Paradoks Indonesia dan Solusinya, serta Strategi Transformasi Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045.

Buku Strategi Transformasi Bangsa diterbitkan pada 2023 dan tercatat di sejumlah katalog perpustakaan sebagai karya Prabowo Subianto. Isinya membahas strategi pembangunan jangka panjang menuju Indonesia maju pada 2045, termasuk pangan, energi, industri, sumber daya manusia, birokrasi, dan pertahanan.

Polemik buku Islam ala Prabowo

Pada September 2026, perhatian publik juga tertuju pada buku Islam ala Prabowo Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. Berdasarkan bahan yang dihimpun, buku tersebut disusun oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas, bukan ditulis langsung oleh Prabowo.

Polemik muncul setelah sejumlah tokoh yang namanya tercantum dalam buku menyatakan tidak pernah menulis materi yang dikaitkan dengan mereka. MUI kemudian memberikan klarifikasi bahwa buku tersebut bukan program, kegiatan, maupun produk MUI. MUI juga menjelaskan kehadiran Ketua Umumnya dalam acara peluncuran berkaitan dengan tugasnya sebagai pembaca doa pada Rakornas Baznas.

Perbedaan antara karya yang ditulis langsung oleh presiden dan buku yang ditulis pihak lain menjadi penting dalam membaca literatur politik. Buku-buku tersebut tidak hanya menyimpan catatan sejarah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin menjelaskan pengalaman, gagasan, dan arah politiknya kepada publik.

Related Tags & Categories :

Leet OG

Leethania