June 9, 2026 By RB

09 Juni 2026 – Perekonomian Indonesia tengah menghadapi tantangan yang tidak hanya terlihat dari angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari perubahan perilaku konsumsi masyarakat. Di tengah menyusutnya jumlah kelas menengah dan meningkatnya tekanan biaya hidup, muncul fenomena konsumsi yang paradoksal seperti lipstick effect dan doom spending. Kedua tren ini menunjukkan bagaimana masyarakat tetap berbelanja demi memperoleh kepuasan psikologis meskipun kondisi keuangan mereka sedang tertekan.
Kelas menengah selama ini menjadi motor utama konsumsi domestik Indonesia. Kelompok ini bersama masyarakat yang berada pada kategori menuju kelas menengah menyumbang lebih dari 80 persen konsumsi rumah tangga nasional serta mencakup sekitar dua pertiga populasi Indonesia.
Namun, data menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Jumlah kelas menengah aman atau secure middle class turun dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024. Pada 2025, jumlah tersebut kembali menyusut menjadi sekitar 46,7 juta jiwa atau hanya 16,6 persen dari total populasi.
Penurunan ini menunjukkan bahwa jutaan masyarakat mengalami penurunan status ekonomi dan berpindah ke kelompok aspiring middle class yang lebih rentan terhadap gejolak ekonomi. Kelompok ini sangat sensitif terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok, pemutusan hubungan kerja, maupun perlambatan ekonomi.
Beberapa faktor turut memperburuk kondisi kelas menengah Indonesia, antara lain:
Kondisi tersebut membuat banyak rumah tangga harus mengurangi pengeluaran, menunda pembelian aset, hingga mengandalkan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Meski tingkat inflasi nasional relatif terkendali, kenyataannya biaya hidup masyarakat terus meningkat. Harga bahan pangan, biaya pendidikan, layanan kesehatan, dan kebutuhan perumahan mengalami kenaikan yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan.
Pada saat yang sama, rata-rata pertumbuhan upah pekerja formal cenderung stagnan. Akibatnya, kemampuan masyarakat untuk menabung semakin berkurang.
Banyak keluarga kelas menengah kini terpaksa melakukan de-saving atau menggunakan tabungan yang sebelumnya disimpan untuk kebutuhan jangka panjang. Survei menunjukkan mayoritas responden kelas menengah memilih “makan tabungan” dibanding mengambil pinjaman berbunga tinggi untuk menutupi kebutuhan harian.
Salah satu dampak paling nyata adalah semakin sulitnya masyarakat memiliki aset produktif seperti rumah dan kendaraan.
Harga properti yang terus meningkat membuat sebagian besar pembeli rumah harus mengandalkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Bahkan bagi generasi muda di perkotaan, mengumpulkan uang muka rumah menjadi tantangan besar.
Ketika kepemilikan aset terasa semakin jauh dari jangkauan, pola konsumsi masyarakat mulai bergeser ke bentuk-bentuk pengeluaran yang memberikan kepuasan instan.
Lipstick effect merupakan istilah ekonomi yang menggambarkan kecenderungan masyarakat tetap membeli barang-barang mewah berharga relatif murah ketika kondisi ekonomi sedang sulit.
Fenomena ini pertama kali populer setelah para ekonom mengamati peningkatan penjualan produk kosmetik pada masa krisis ekonomi dan pasca tragedi 11 September di Amerika Serikat. Ketika masyarakat tidak mampu membeli barang mewah bernilai besar seperti rumah, mobil, atau liburan ke luar negeri, mereka mencari alternatif berupa kemewahan kecil yang masih dapat dijangkau.
Di Indonesia, fenomena ini terlihat melalui berbagai tren konsumsi perkotaan seperti:
Secara psikologis, aktivitas tersebut memberikan rasa senang, meningkatkan kepercayaan diri, serta menjadi pelarian sementara dari tekanan ekonomi yang sedang dihadapi.
Selain lipstick effect, muncul pula fenomena doom spending yang banyak ditemukan pada Generasi Z dan Milenial.
Doom spending adalah perilaku menghabiskan uang untuk barang atau pengalaman non-esensial sebagai respons terhadap kecemasan masa depan. Ketika target finansial seperti membeli rumah atau mencapai kebebasan finansial terasa sulit diwujudkan, sebagian orang memilih menikmati uang mereka saat ini daripada menabung untuk tujuan yang dianggap semakin tidak realistis.
Platform seperti TikTok dan Instagram secara terus-menerus menampilkan gaya hidup konsumtif, produk viral, dan tren terbaru. Hal ini memicu Fear of Missing Out atau FOMO yang mendorong pembelian impulsif.
Ketidakpastian ekonomi, maraknya PHK, dan tekanan pekerjaan membuat banyak anak muda menjadikan aktivitas belanja sebagai bentuk retail therapy untuk memperbaiki suasana hati.
Layanan Buy Now Pay Later atau BNPL membuat transaksi menjadi lebih mudah. Sayangnya, kemudahan ini sering kali mendorong konsumsi yang tidak sesuai dengan kemampuan finansial pengguna.
Meski banyak generasi muda memahami konsep literasi keuangan, penerapan disiplin anggaran dalam kehidupan sehari-hari masih menjadi tantangan besar.
Fenomena lipstick effect dan doom spending tidak selalu mencerminkan kuatnya daya beli masyarakat. Sebaliknya, perilaku tersebut dapat menjadi indikator tekanan ekonomi yang sedang dialami rumah tangga kelas menengah.
Jika tren ini terus berlangsung, terdapat sejumlah risiko yang dapat muncul, antara lain:
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memperlemah fondasi ekonomi nasional karena akumulasi modal domestik menjadi lebih rendah dan kemampuan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan semakin terbatas.
Fenomena lipstick effect dan doom spending menjadi cerminan kondisi ekonomi kelas menengah Indonesia yang sedang mengalami tekanan. Di balik ramainya pusat perbelanjaan, tren kopi estetik, atau maraknya pembelian barang koleksi, terdapat realitas bahwa banyak masyarakat sedang menghadapi penurunan daya beli, kesulitan memiliki aset, dan berkurangnya kemampuan menabung.
Oleh karena itu, penguatan lapangan kerja formal, peningkatan pendapatan riil, serta edukasi literasi keuangan berbasis perilaku menjadi langkah penting untuk menjaga ketahanan ekonomi rumah tangga sekaligus memperkuat fondasi ekonomi Indonesia di masa depan.