October 5, 2026 By RB

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengalokasikan anggaran sebesar Rp118,5 triliun pada 2026 untuk mendukung pembangunan infrastruktur nasional. Di bawah kepemimpinan Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, anggaran tersebut diarahkan untuk berbagai proyek strategis, mulai dari pembangunan jalan pendukung program food estate di Papua Selatan, pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN), Jembatan Pulau Laut di Kalimantan Selatan, hingga pembangunan Sekolah Rakyat. Keempat proyek tersebut memiliki tujuan berbeda, mulai dari memperkuat ketahanan pangan dan konektivitas wilayah hingga memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu.
Anggaran Kementerian PU untuk tahun anggaran 2026 ditetapkan sebesar Rp118,5 triliun, meningkat dari pagu indikatif awal Rp70,86 triliun. Berdasarkan dokumen analisis proyek infrastruktur, alokasi terbesar diberikan kepada Direktorat Jenderal Bina Marga sebesar Rp45,61 triliun dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air sebesar Rp34,73 triliun.
Pendanaan tersebut mencerminkan prioritas pemerintah dalam memperkuat infrastruktur pendukung ketahanan pangan, meningkatkan konektivitas antardaerah, serta membangun fasilitas pelayanan publik.
Empat proyek yang menjadi sorotan adalah infrastruktur food estate Wanam di Papua Selatan, pembangunan kawasan pemerintahan IKN, Jembatan Pulau Laut, dan program Sekolah Rakyat.
Pemerintah mengembangkan Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP) Wanam di Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, untuk mendukung target swasembada pangan nasional. Kawasan ini direncanakan menjadi pusat produksi pangan dan perkebunan tebu berskala besar.
Program tersebut menargetkan pengembangan kawasan lebih dari 2,29 juta hektare, dengan sasaran awal sedikitnya 10.000 hektare lahan dapat dipanen pada 2026.
Untuk mendukung aktivitas pertanian, Kementerian PU membangun jalan penghubung Wanam–Muting yang melintasi kawasan rawa dan hutan dataran rendah. Pembangunan jalan menggunakan teknologi pile slab atau struktur jalan bertumpu pada tiang untuk menghadapi kondisi tanah lunak.
Segmen pertama memiliki panjang 58 kilometer, sedangkan segmen kedua mencapai 80,02 kilometer. Kontrak pembangunan segmen kedua tercatat sebesar Rp4,8 triliun dengan target penyelesaian pada Oktober 2027.
Selain jalan, pemerintah membangun jaringan irigasi untuk menunjang kegiatan pertanian. Namun, proyek ini juga menghadapi kritik terkait potensi deforestasi, perubahan ekosistem rawa, dan dampaknya terhadap masyarakat adat Papua.
Sejumlah organisasi lingkungan menyoroti risiko kehilangan hutan dan habitat satwa endemik. Persoalan hak atas tanah ulayat serta keterlibatan masyarakat adat menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan proyek tersebut.
Pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur tetap dilanjutkan pada 2026, tetapi dengan anggaran yang lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dokumen analisis mencatat alokasi pembangunan IKN mencapai Rp43,4 triliun pada 2024, kemudian turun menjadi Rp13 triliun pada 2025. Pada 2026, pagu anggaran kumulatif Otorita IKN dan Kementerian PU disebut berada pada kisaran Rp6,26 triliun hingga Rp6,3 triliun.
Dengan keterbatasan anggaran tersebut, pembangunan difokuskan pada fasilitas inti pemerintahan, termasuk kompleks legislatif dan yudikatif di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) 1A.
Kompleks legislatif direncanakan berdiri di atas lahan seluas 42 hektare dengan estimasi nilai investasi Rp8,5 triliun. Fasilitasnya mencakup gedung DPR, ruang sidang paripurna berkapasitas hingga 1.579 orang, serta kawasan terbuka yang dirancang sebagai ruang publik.
Penyelesaian kompleks legislatif dan yudikatif ditargetkan pada akhir 2027 atau awal 2028. Sementara itu, keterbatasan pendanaan menjadi tantangan bagi pengembangan kawasan hunian, komersial, dan fasilitas pendukung lainnya.
Jembatan Pulau Laut menjadi proyek konektivitas strategis yang menghubungkan Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu dengan Pulau Laut di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Proyek yang sempat terhenti pada 2017 tersebut kembali dikembangkan dengan estimasi nilai investasi mencapai Rp5,9 triliun. Jembatan ini dirancang memiliki panjang total sekitar 3,75 kilometer dan lebar 24 meter.
Dari keseluruhan pembiayaan, Kementerian PU melalui APBN mengalokasikan sekitar Rp3 triliun untuk pembangunan bentang tengah jembatan. Sementara itu, pembangunan jalan pendekat didukung oleh anggaran pemerintah daerah dan keterlibatan sejumlah BUMN konstruksi.
Keberadaan jembatan diharapkan memperlancar mobilitas masyarakat, meningkatkan akses terhadap layanan pendidikan dan kesehatan, serta mendukung kegiatan ekonomi di wilayah sekitar.
Meski demikian, proyek ini juga menimbulkan perhatian terkait keseimbangan antara manfaat publik dan kepentingan industri pertambangan serta perkebunan. Pengawasan terhadap dampak lingkungan dan pemerataan manfaat pembangunan menjadi faktor penting agar investasi infrastruktur memberikan keuntungan bagi masyarakat luas.
Berbeda dari proyek jalan dan jembatan berskala besar, Sekolah Rakyat merupakan program pembangunan infrastruktur sosial yang menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan rentan.
Program yang didukung Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 ini dirancang dalam bentuk sekolah berasrama tanpa pungutan biaya. Fasilitasnya meliputi ruang kelas, asrama, laboratorium, sarana olahraga, serta dukungan program pemenuhan gizi dan kesehatan.
Berdasarkan dokumen analisis, hingga pertengahan 2026 sebanyak 166 Sekolah Rakyat telah diresmikan, termasuk 93 bangunan permanen Tahap II yang diselesaikan Kementerian PU. Pemerintah menargetkan pengoperasian 500 sekolah hingga 2029, dengan kapasitas ideal 1.000 siswa per sekolah.
Salah satu proyek yang disorot berada di Nagari Tanjung Alam, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Pembangunan sekolah di lokasi tersebut direncanakan memanfaatkan lahan seluas 19 hektare yang disumbangkan untuk kepentingan pendidikan. Proyeknya diperkirakan membutuhkan anggaran Rp250 miliar hingga Rp300 miliar.
Sementara itu, Sekolah Rakyat Terpadu di Rowosari, Semarang, dibangun di atas lahan seluas 6,5 hektare dengan kapasitas sekitar 1.080 siswa.
Program ini tidak hanya menitikberatkan pada pembangunan gedung. Pemerintah juga merancang jalur pendidikan lanjutan melalui beasiswa serta pelatihan vokasi dan sertifikasi keterampilan bagi lulusan yang ingin memasuki dunia kerja.
Keempat proyek tersebut memperlihatkan beragam prioritas pembangunan infrastruktur Indonesia. Jalan dan jaringan irigasi Wanam diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan, IKN difokuskan pada penyelesaian fasilitas pemerintahan, Jembatan Pulau Laut memperkuat konektivitas wilayah, sedangkan Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi kelompok rentan.
Namun, besarnya investasi harus diimbangi dengan pengawasan anggaran, perlindungan lingkungan, penghormatan terhadap hak masyarakat lokal, serta evaluasi manfaat bagi publik.
Keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari panjang jalan, megahnya gedung, atau jumlah fasilitas yang dibangun. Dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat, pemerataan akses layanan publik, dan keberlanjutan lingkungan juga menjadi indikator penting.
Dengan anggaran Rp118,5 triliun pada 2026, tantangan Kementerian PU adalah memastikan setiap proyek berjalan sesuai target sekaligus memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.