March 31, 2025 By Abril Geralin
31 Maret 2025 – Pada Jumat malam, 28 Maret 2025, Elon Musk mengumumkan keputusan bisnis yang mengejutkan banyak pihak. Pria terkaya di dunia ini menjual platform media sosial X (dulunya Twitter) kepada xAI, perusahaan kecerdasan buatan miliknya sendiri. Transaksi ini dinilai sebesar USD 33 miliar (sekitar Rp 546 triliun), yang merupakan bagian dari strategi besar Musk untuk menggabungkan dua bisnisnya.
Transaksi ini ternyata berbasis saham, dengan nilai total X ditetapkan sebesar USD 45 miliar (sekitar Rp 745 triliun). Namun, setelah dikurangi utang sebesar USD 12 miliar (sekitar Rp 199 triliun), nilai bersih X menjadi USD 33 miliar. Meski begitu, angka ini masih lebih rendah dibandingkan harga yang dibayar Musk saat mengakuisisi Twitter pada 2022 lalu, yakni USD 44 miliar.
Di sisi lain, xAI memiliki valuasi yang jauh lebih tinggi dalam kesepakatan ini, yaitu sekitar USD 80 miliar (Rp 1.325 triliun). Gabungan kedua perusahaan ini membentuk entitas baru bernama XAI Holdings, dengan nilai total lebih dari USD 100 miliar (Rp 1.665 triliun), tidak termasuk utang.
“Masa depan xAI dan X saling terhubung. Hari ini, kami secara resmi mengambil langkah untuk menggabungkan data, model, komputasi, distribusi, dan talenta. Kombinasi ini akan membuka potensi besar dengan menggabungkan keahlian AI canggih xAI dengan jangkauan luas X,” tulis Musk dalam postingan di akunnya.
Keputusan Musk untuk menggabungkan X dan xAI bukanlah langkah tanpa perhitungan. Ada beberapa alasan strategis yang mendasari keputusan ini:
Penggabungan ini memungkinkan xAI memanfaatkan data real-time dari platform X, yang memiliki jutaan pengguna aktif. Data ini sangat berharga untuk melatih model AI seperti Grok, chatbot kecerdasan buatan milik xAI. Sebelumnya, Grok sudah terintegrasi ke dalam platform X, menunjukkan kerja sama erat antara kedua perusahaan sejak xAI didirikan pada 2023.
Langkah ini mencerminkan strategi Musk dalam mengkonsolidasikan bisnisnya, seperti yang ia lakukan saat Tesla mengakuisisi SolarCity pada 2016. Dengan menggabungkan X dan xAI, Musk dapat menyelaraskan usahanya dengan lebih efisien, terutama di tengah kesibukan barunya sebagai pegawai khusus di Departemen Efisiensi Pemerintah dalam pemerintahan Trump.
Musk juga ingin membangun reputasi sebagai pemimpin di bidang AI, yang menjadi fokus utama bagi pemerintahan Trump dan industri teknologi. Awal tahun ini, Musk memimpin kelompok investor yang berusaha membeli OpenAI, pembuat ChatGPT, dengan harga hampir USD 100 miliar—langkah besar dalam persaingannya dengan CEO OpenAI, Sam Altman.
Sejak Musk membeli Twitter pada 2022 dan mengubah namanya menjadi X, platform ini telah mengalami transformasi radikal. Musk memecat 80% karyawan perusahaan, mengubah sistem verifikasi akun, dan mengaktifkan kembali akun yang sebelumnya ditangguhkan, termasuk akun kelompok supremasi kulit putih. Perubahan-perubahan ini sempat menyebabkan eksodus pengguna dan pengiklan besar.
Meski sempat terpuruk, X mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pada Oktober lalu, firma investasi Fidelity memperkirakan nilai X turun hampir 80% sejak dibeli Musk. Namun, pada Desember, nilai X mulai pulih meskipun masih sekitar 30% dari harga pembelian awal.
Sejumlah pengiklan besar yang sebelumnya meninggalkan X akibat meningkatnya ujaran kebencian di platform kini mulai kembali. X telah menonaktifkan beberapa akun pro-Nazi dari program periklanannya. Amazon dan Apple dikabarkan mulai kembali berinvestasi dalam kampanye iklan di X—sebuah tanda pemulihan bagi platform tersebut.
Tahun lalu, Musk mengubah X menjadi platform yang mendukung Trump, menggunakan media sosial ini untuk memperkuat kampanye presiden tersebut. Kini, dengan Trump kembali menjabat dan Musk bekerja di pemerintahan, X kembali menjadi platform sosial media utama untuk mengikuti perkembangan pemerintahan Trump. Musk juga menggunakan X untuk mengumumkan beberapa kebijakan barunya di Departemen Efisiensi Pemerintah.
Musk meluncurkan xAI kurang dari dua tahun lalu dengan tujuan untuk “memahami sifat sejati alam semesta”. Meski relatif baru, xAI telah berkembang pesat dan mencoba bersaing langsung dengan OpenAI, startup AI yang ironisnya juga didirikan Musk pada 2015 sebelum ia meninggalkannya.
Tim xAI telah mengembangkan model bahasa besar dan produk perangkat lunak AI, mengambil inspirasi dari OpenAI serta Google, Microsoft, Meta, dan perusahaan teknologi lainnya. Pada Juni 2024, xAI mengumumkan akan membangun superkomputer di Memphis, Tennessee, untuk melatih Grok. Pada September, Musk mengungkapkan bagian dari superkomputer Memphis, yang sekarang dikenal sebagai Colossus, sudah online.
Investor menilai xAI memperoleh sekitar USD 50 miliar dalam putaran pendanaan tahun lalu. Bloomberg melaporkan bulan lalu bahwa perusahaan tersebut sedang dalam pembicaraan untuk mengumpulkan dana dengan valuasi USD 75 miliar. Dengan akuisisi X, nilai xAI kini mencapai USD 80 miliar, menunjukkan kepercayaan investor terhadap visi Musk di bidang AI.
Meski akuisisi ini telah dikonfirmasi, masih ada beberapa tantangan dan pertanyaan yang perlu dijawab:
Kesepakatan ini kemungkinan akan menghadapi pengawasan regulasi karena konsolidasi kepentingan bisnis Musk yang semakin luas. Pertanyaan tentang monopoli dan konsentrasi kekuasaan mungkin akan muncul.
Belum jelas bagaimana struktur kepemimpinan dari entitas gabungan ini akan dibentuk. CEO X saat ini, Linda Yaccarino, menyambut baik merger ini dan menyoroti potensinya dalam memberikan pengalaman yang lebih cerdas dan bermakna bagi pengguna, namun belum ada informasi tentang perannya di masa depan.
Karena kedua perusahaan dimiliki secara pribadi dan dikendalikan oleh Musk, transaksi tersebut kemungkinan merupakan pertukaran saham, dengan investor X mendapatkan pembayaran dalam bentuk saham xAI. Kedua perusahaan memiliki sejumlah investor bersama, termasuk perusahaan ventura Andreessen Horowitz dan Sequoia Capital, serta Fidelity Management, Vy Capital, dan Kingdom Holding Co. dari Arab Saudi.
Langkah Musk menjual X ke xAI menandai babak baru dalam perjalanan bisnis pria terkaya di dunia ini. Dengan menggabungkan kekuatan platform media sosial dan teknologi AI, Musk tampaknya bersiap untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat di industri teknologi, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu inovator terdepan di era digital.