June 29, 2026 By RB

29 Juni 2026 – Video pelatihan calon manager Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang memperlihatkan peserta mengikuti latihan menggunakan senjata viral di media sosial dan memicu berbagai tanggapan dari masyarakat. Tayangan tersebut menjadi perbincangan karena dinilai tidak selaras dengan kompetensi utama yang dibutuhkan seorang manager koperasi, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai fokus materi pelatihan yang diberikan kepada para peserta.
Dalam video yang beredar, sejumlah calon manager Koperasi Desa Merah Putih terlihat mengikuti sesi pelatihan yang melibatkan penggunaan senjata. Cuplikan tersebut dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial dan menuai beragam komentar dari warganet.
Banyak pihak mempertanyakan relevansi materi tersebut dengan tugas utama seorang manager koperasi. Menurut mereka, pelatihan seharusnya lebih diarahkan pada peningkatan kemampuan mengelola usaha dan memperkuat kompetensi manajerial dibandingkan materi yang berkaitan dengan latihan fisik atau penggunaan senjata.
Meski demikian, belum sedikit pula yang berpendapat bahwa materi tersebut kemungkinan merupakan bagian dari pembentukan karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, serta kerja sama tim yang sering dimasukkan dalam program pelatihan berbasis semi militer.
Sejumlah kritik yang beredar menilai calon manager KDMP seharusnya lebih banyak memperoleh pembekalan yang berkaitan langsung dengan pengelolaan koperasi. Materi seperti manajemen keuangan, penyusunan laporan usaha, strategi pemasaran, analisis potensi ekonomi desa, hingga pengembangan rantai pasok dianggap jauh lebih relevan untuk mendukung tugas mereka di lapangan.
Seorang manager koperasi memiliki peran penting dalam memastikan seluruh kegiatan usaha berjalan secara efektif dan berkelanjutan. Selain mengelola operasional harian, manager juga bertanggung jawab menjaga kesehatan keuangan koperasi, mengoptimalkan penggunaan modal, meningkatkan pendapatan usaha, serta memastikan koperasi mampu memberikan manfaat nyata bagi seluruh anggotanya.
Manager koperasi juga dituntut memiliki kemampuan mengambil keputusan bisnis, membaca peluang pasar, mengelola risiko usaha, serta menyusun strategi pengembangan yang sesuai dengan potensi ekonomi di masing-masing desa.
Perdebatan yang muncul bukan semata-mata menolak pentingnya pelatihan kedisiplinan maupun kepemimpinan. Banyak pihak mengakui bahwa pembentukan karakter tetap memiliki nilai positif dalam membangun mental seorang pemimpin.
Namun, publik menilai porsi utama pelatihan sebaiknya lebih difokuskan pada peningkatan kemampuan bisnis dan manajerial yang dapat langsung diterapkan saat mengelola koperasi. Dengan bekal tersebut, para manager diharapkan mampu mengembangkan usaha koperasi secara profesional, meningkatkan kesejahteraan anggota, serta mendorong pertumbuhan ekonomi desa sesuai tujuan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih.
Sorotan terhadap video pelatihan ini pun memunculkan diskusi yang lebih luas mengenai pentingnya penyusunan kurikulum pelatihan yang seimbang, sehingga pembentukan karakter dapat berjalan beriringan dengan penguatan kompetensi teknis yang benar-benar dibutuhkan dalam mengelola koperasi modern.
Related Tags & Categories :