September 21, 2026 By RB

Ukraina melancarkan serangan udara besar-besaran ke Moskow dan wilayah sekitarnya pada Minggu (20/9/2026), bertepatan dengan hari terakhir pemilihan parlemen Rusia. Otoritas Rusia menyebut lebih dari 1.600 drone berhasil dicegat, termasuk sekitar 450 yang mengarah ke ibu kota. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan bangunan, serta gangguan terhadap fasilitas energi dan logistik.
Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin mengatakan pertahanan udara Rusia menghadapi gelombang serangan drone dalam jumlah besar sejak Sabtu malam hingga Minggu pagi. Dari lebih dari 1.600 drone yang disebut berhasil dicegat, sekitar 450 di antaranya diarahkan menuju Moskow.
Serangan pada 19–20 September tersebut disebut sebagai salah satu paket serangan rudal dan drone terbesar Ukraina terhadap wilayah strategis di sekitar Moskow sejak dimulainya invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.
Meski sebagian besar drone diklaim berhasil dicegat, sejumlah serangan tetap menimbulkan kerusakan. Pemerintah Rusia melaporkan adanya kebakaran dan kerusakan pada sejumlah fasilitas di wilayah Moskow.
Salah satu lokasi yang terdampak adalah kilang minyak Moskow. Serangan menyebabkan kebakaran di fasilitas tersebut. Laporan Reuters menyebut kilang itu kemudian menghentikan pemrosesan minyak mentah setelah sejumlah unit pengolahan mengalami kerusakan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan serangan jarak jauh tersebut menyasar fasilitas penting yang berkaitan dengan industri minyak dan logistik Rusia.
“Respons jarak jauh kami memiliki dampak yang sangat signifikan di wilayah Moskow tadi malam,” kata Zelensky.
Ia juga menyebut salah satu fasilitas utama industri minyak Rusia dan fasilitas logistik telah terkena serangan. Menurut Zelensky, fasilitas tersebut memiliki nilai strategis karena berkaitan dengan kemampuan Rusia membiayai perang.
Dampak serangan juga dirasakan warga sipil di wilayah Moskow. Sebuah gedung hunian 21 lantai di kawasan Ramenskoye mengalami kebakaran setelah terkena dampak serangan drone.
Gubernur Wilayah Moskow Andrei Vorobyov mengatakan ratusan warga harus dievakuasi dari bangunan tersebut. Laporan awal menyebut sekitar 400 orang dievakuasi, sementara sejumlah laporan lain memberikan angka berbeda.
Korban jiwa juga dilaporkan akibat serangan tersebut. Jumlah korban berubah dalam laporan awal karena salah satu korban kemudian meninggal setelah sebelumnya mengalami luka. Laporan media internasional menyebut sedikitnya tiga orang meninggal.
Selain itu, lebih dari 20 orang dilaporkan mengalami luka akibat rangkaian serangan tersebut.
Serangan besar-besaran ini berlangsung pada hari terakhir pemilihan parlemen Rusia yang digelar selama tiga hari. Waktu serangan tersebut mendapat sorotan karena berlangsung ketika masyarakat Rusia masih memberikan suara.
Sobyanin menuduh serangan tersebut dirancang untuk mengganggu proses pemilu. Pemerintah Rusia menyatakan upaya itu tidak berhasil dan mengatakan proses pemungutan suara tetap berlangsung.
Serangan juga berdampak pada aktivitas penerbangan. Sejumlah bandara di sekitar Moskow sempat membatasi operasional sebagai langkah keamanan.
Di sisi lain, Ukraina tidak secara resmi menyatakan bahwa serangan tersebut bertujuan mengganggu pemilu. Zelensky justru menekankan dampaknya terhadap fasilitas energi dan logistik Rusia.
Selain drone, Zelensky menyebut Ukraina menggunakan sejumlah senjata jarak jauh yang dikembangkan di dalam negeri. Salah satu nama yang menjadi perhatian adalah “Pelican”.
Namun, jenis senjata tersebut masih menjadi perdebatan. Sejumlah laporan menyebut Pelican sebagai rudal balistik, sementara analisis lain menyatakan senjata itu kemungkinan merupakan drone serang.
Serangan ini menunjukkan bagaimana perang Rusia-Ukraina terus berkembang menjadi konflik dengan penggunaan senjata jarak jauh yang semakin intensif. Infrastruktur energi dan logistik menjadi salah satu sasaran penting dalam strategi kedua pihak, sementara serangan udara juga semakin sering menjangkau wilayah yang jauh dari garis depan.
Related Tags & Categories :