Leet Media

Seekor Alpaca Diduga Ditelantarkan Sendiri Tanpa Air Dalam Kondisi Kelelahan di Sebuah Mal Malaysia

February 22, 2026 By pj

22 Februari 2026 – Sebuah video yang memperlihatkan seekor alpaca diduga ditelantarkan tanpa air di dalam area mal memicu gelombang kemarahan publik di Malaysia. Peristiwa ini terjadi dalam rangkaian acara kebun binatang mini di Ampang Point, Selangor, dan dengan cepat menyebar di media sosial hingga mendorong penghentian acara serta evaluasi dari pihak pengelola mal.

Video Viral Picu Sorotan Soal Kesejahteraan Hewan

Insiden bermula ketika seekor alpaca terekam berada di dalam kandang sempit di area pusat perbelanjaan. Dalam video yang beredar, hewan tersebut tampak kehausan dan terduduk lemas. Sejumlah pengunjung terlihat mencoba memberikan air minum dari botol, yang langsung diminum oleh alpaca tersebut.

Unggahan dari pengguna Threads @_qistinasarah menjadi pemicu utama perhatian publik. Ia mengungkapkan rasa prihatin setelah melihat kondisi alpaca yang dinilai tidak leluasa bergerak di tengah keramaian mal.

“I feel so bad because it cannot run away or even react in any other way,” tulisnya. “I have lodged a report, but please boycott this kind of event in malls. Even if they are cute or fluffy, just know that they are stressed too.”

Unggahan tersebut menyebar luas dan memicu kecaman, termasuk laporan dari masyarakat kepada Department of Veterinary Services DVS.

Pihak Mal Beri Klarifikasi dan Hentikan Acara

Menanggapi polemik yang berkembang, manajemen Ampang Point Shopping Centre mengeluarkan pernyataan resmi pada 17 Februari. Pihak mal menegaskan bahwa acara tersebut dioperasikan oleh penyelenggara pihak ketiga yang memiliki lisensi sah dan telah menjalani inspeksi.

“The event is operated by a licensed third-party organiser. Inspections were carried out on-site by the Department of Veterinary Services DVS in January and February, and the organiser was found to be compliant with regulations,” demikian pernyataan resmi pihak mal.

Manajemen juga membantah narasi bahwa alpaca ditempatkan secara terus-menerus di dalam mal.

“The alpaca is not kept at the mall on a continuous basis”

Meski demikian, tekanan publik terus meningkat. Sejumlah pengunjung mengaku melihat alpaca tersebut di luar jadwal akhir pekan, bahkan menduga hewan itu tetap berada di lokasi setelah jam operasional.

Akhirnya, pihak mal memutuskan untuk mengakhiri acara lebih awal.

“We acknowledge the concerns raised and have taken note of the feedback received. In light of this, the petting zoo event officially ended yesterday 18 February. We will also be reviewing how similar events are assessed moving forward.”

Perdebatan Lama Soal Hewan di Ruang Komersial

Kasus ini kembali membuka diskusi lebih luas tentang penggunaan hewan dalam acara komersial di pusat perbelanjaan. Sebelumnya, sebuah kafe di Melaka juga menuai kecaman setelah diketahui memelihara alpaca bersama lebih dari 22 hewan lain sebagai daya tarik bisnis, yang berujung pada perintah penutupan dan denda RM10.000.

Peristiwa di Ampang Point mempertegas bahwa isu kesejahteraan hewan tidak lagi sekadar soal kepatuhan administratif, melainkan juga menyangkut aspek etika. Kritik yang bermunculan menunjukkan bahwa sebagian masyarakat menilai lingkungan bising dan padat pengunjung bukanlah tempat yang layak bagi hewan, meskipun secara regulasi dinyatakan memenuhi syarat.

Ke depan, evaluasi terhadap mekanisme persetujuan acara berbasis hewan di ruang komersial diperkirakan akan menjadi perhatian lebih serius, baik oleh pengelola pusat perbelanjaan maupun regulator terkait.