May 18, 2026 By RB

18 Mei 2026- Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan publik setelah pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal masyarakat desa yang disebut tidak menggunakan Dolar. Di tengah situasi tersebut, warganet ramai membandingkan cara pemerintah saat ini berkomunikasi mengenai ekonomi dengan pendekatan yang pernah ditunjukkan Prof. B.J. Habibie ketika Indonesia menghadapi krisis moneter 1998. Perbandingan ini tidak hanya membahas gaya pidato, tetapi juga cara memandang dampak ekonomi terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.

Perdebatan bermula saat Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung pelemahan Rupiah yang mendekati Rp18.000 per Dolar AS dengan nada santai.
Di hadapan publik, Prabowo sempat melontarkan candaan soal Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
“Mana Purbaya? Populer sekali ya Purbaya ini. Selama Purbaya masih bisa senyum, tenang saja.”
Prabowo kemudian menyampaikan pandangannya bahwa kekhawatiran terhadap Dolar tidak perlu dibesar-besarkan.
“Jadi saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, rupiah begini, dolar begini. Orang rakyat di desa nggak pakai dolar, kok.”
Pernyataan tersebut memicu beragam respons. Sebagian menilai pidato tersebut bertujuan menjaga optimisme publik dan mencegah kepanikan pasar. Namun di sisi lain, banyak pihak mempertanyakan apakah narasi tersebut cukup menggambarkan kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Secara langsung, masyarakat memang bertransaksi menggunakan Rupiah. Namun dalam praktik ekonomi modern, pelemahan nilai tukar tetap dapat menjangkau kehidupan sehari-hari melalui rantai pasok dan biaya produksi.
Indonesia masih mengandalkan impor untuk sejumlah kebutuhan penting seperti kedelai, gandum, dan bawang putih. Ketika Dolar menguat, biaya impor meningkat dan berpotensi diteruskan menjadi kenaikan harga di pasar.
Akibatnya, produk yang dekat dengan konsumsi rumah tangga seperti tahu, tempe, roti, dan berbagai bahan pokok ikut mengalami tekanan harga.
Sektor pertanian juga memiliki keterkaitan dengan kurs Dolar. Sebagian bahan baku pupuk, pestisida, dan kebutuhan produksi lainnya masih dipengaruhi pasar global.
Ketika biaya produksi naik, petani menghadapi pilihan sulit antara menaikkan harga jual atau menanggung margin keuntungan yang menurun.
Pelemahan Rupiah juga dapat meningkatkan beban impor energi dan biaya logistik. Jika biaya transportasi naik, distribusi barang ke wilayah pedesaan ikut menjadi lebih mahal.
Karena itu, pergerakan kurs bukan sekadar angka di pasar keuangan, tetapi memiliki efek berlapis terhadap daya beli masyarakat.

Di tengah perdebatan tersebut, publik kembali menyoroti momen ketika Prof. B.J. Habibie masih menjadi wakil presiden mendampingi Soeharto di penghujung masa pemerintahannya.
Saat itu Indonesia menghadapi krisis moneter yang sangat berat. Nilai tukar Rupiah melemah tajam hingga berada di kisaran Rp16.000 per Dolar AS. Inflasi meningkat, dunia usaha terguncang, dan ketidakpastian ekonomi meluas.
Namun yang banyak diingat publik bukan hanya kondisi krisisnya, melainkan cara pemerintah saat itu menyampaikan optimisme kepada masyarakat.
Habibie menyampaikan bahwa Indonesia tidak boleh terjebak pada sikap defensif.
“Karena kita akan belajar dari kesalahan-kesalahan kami dan juga dari kesalahan yang lain.”
Pernyataan tersebut dipandang sebagai bentuk pengakuan terhadap kondisi yang sedang terjadi sekaligus ajakan untuk melakukan perbaikan.
Setelah melalui berbagai langkah pemulihan ekonomi, nilai tukar Rupiah perlahan kembali menguat hingga berada di kisaran Rp6.500 per Dolar AS.
Keberhasilan tersebut kerap dikaitkan dengan upaya pemulihan kepercayaan, reformasi ekonomi, dan penyesuaian kebijakan yang dilakukan pemerintah pada masa transisi pasca krisis.
Meski konteks ekonomi 1998 dan kondisi saat ini berbeda, perbandingan yang ramai di media sosial menunjukkan bahwa publik tidak hanya menilai hasil kebijakan ekonomi, tetapi juga memperhatikan cara pemimpin menjelaskan situasi kepada masyarakat.
Jika dirangkum dari perdebatan yang berkembang, perbandingan antara pidato Prabowo dan pendekatan Habibie lebih banyak berada pada aspek komunikasi publik.
Pidato Prabowo dinilai menekankan ketenangan dan keyakinan bahwa kondisi ekonomi tetap terkendali. Sementara pendekatan Habibie lebih dikenang karena menampilkan pengakuan terhadap tantangan yang dihadapi sembari menawarkan optimisme melalui perbaikan.
Pada akhirnya, nilai tukar Rupiah memang menjadi indikator ekonomi. Namun bagi masyarakat, yang lebih terasa adalah dampaknya terhadap harga kebutuhan, biaya hidup, dan rasa aman terhadap masa depan ekonomi mereka.
Related Tags & Categories :