January 11, 2026 By pj

11 Januari 2025 – Upaya Indonesia memperkuat kemandirian di bidang antariksa memasuki fase krusial dengan dimulainya tahap pengembangan spaceport nasional di Pulau Biak, Papua. Di tengah meningkatnya kompetisi global dalam industri peluncuran satelit dan roket, keberadaan fasilitas peluncuran dalam negeri dipandang sebagai kebutuhan strategis, bukan sekadar simbol kemajuan teknologi. Proyek ini dirancang sebagai fondasi kedaulatan teknologi sekaligus pintu masuk Indonesia ke ekonomi antariksa global.
Badan Riset dan Inovasi Nasional memperkuat sinergi lintas sektor untuk mempercepat realisasi pembangunan spaceport di Biak. Penyelarasan kebijakan dan regulasi dilakukan bersama kementerian terkait, pemerintah daerah, unsur pertahanan dan keamanan, industri, serta perguruan tinggi. Pendekatan ini menegaskan bahwa spaceport diposisikan sebagai simpul aktivitas strategis yang membutuhkan integrasi perencanaan wilayah, keamanan, dan pengembangan ekonomi berbasis ruang.
Kepala BRIN Arif Satria menekankan pentingnya kepastian regulasi sebagai fondasi utama pembangunan.
“Kita tidak boleh setengah-setengah. Kalau bisa sebelum 2040, mengapa tidak lebih cepat? Kuncinya fokus, alokasi waktu, dan produktivitas,” ujar Arif seperti dikutip dari website BRIN.
Pemilihan Pulau Biak didasarkan pada pertimbangan geospasial yang kuat. Lokasinya yang dekat dengan garis khatulistiwa memberikan keuntungan rotasi bumi, sehingga memungkinkan peluncuran roket menuju orbit rendah dengan konsumsi bahan bakar yang lebih efisien.
Orientasi wilayah Biak yang menghadap langsung ke Samudra Pasifik menciptakan koridor peluncuran yang relatif aman. Jalur ini meminimalkan risiko jatuhnya puing roket ke kawasan berpenduduk, menjadikan Biak salah satu lokasi paling strategis di kawasan Asia-Pasifik untuk aktivitas peluncuran antariksa.
BRIN menargetkan pembangunan fisik spaceport dapat dimulai pada 2026, seiring finalisasi regulasi pemerintah terkait operasional fasilitas peluncuran. Regulasi tersebut mencakup kesesuaian tata ruang, pengendalian dampak lingkungan, serta integrasi dengan infrastruktur regional.
Menurut Anugerah Widiyanto, regulasi operasional telah siap digunakan.
“The Draft Government Regulation concerning Spaceport Management has completed the harmonisation process and is ready to serve as the operational basis for development,” kata Anugerah Widiyanto dalam Rakornas Spaceport.
Spaceport Biak juga diusulkan sebagai Proyek Strategis Nasional agar mendapat dukungan lintas kementerian, kepastian pendanaan, dan kemudahan perizinan dalam jangka menengah dan panjang.
Dari perspektif ekonomi keruangan, pembangunan spaceport diproyeksikan menciptakan efek berganda melalui penciptaan lapangan kerja, tumbuhnya industri pendukung, serta peningkatan konektivitas Indonesia dalam ekonomi antariksa global. Proyek ini diharapkan mendorong pengembangan ekosistem industri antariksa nasional, mulai dari manufaktur roket, riset satelit, hingga layanan berbasis data luar angkasa.
BRIN memandang spaceport sebagai peluang untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam industri peluncuran roket komersial dan meningkatkan kontribusi terhadap ekonomi antariksa dunia.
Indonesia juga menjalin kerja sama internasional dalam pengembangan spaceport Biak. Kemitraan melibatkan BRIN, Glavkosmos, Roscosmos State Space Corporation, dan PT Uniresources Petroleum Indonesia. Spaceport ini dirancang untuk melayani kebutuhan komersial entitas publik maupun swasta, baik domestik maupun internasional, dengan tetap menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas utama.
Terkait tata kelola, Arif Satria menegaskan pentingnya koordinasi yang terintegrasi.
“Kita tidak boleh terjebak pada tumpang tindih kewenangan. Yang dibutuhkan adalah sistem yang terintegrasi,” tegasnya.
Kajian awal pembangunan bandar antariksa sebenarnya telah dimulai sejak 1985 oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional dengan penetapan lokasi di Kampung Saukobye, Biak Numfor. Namun, berbagai kendala membuat proyek ini tertunda selama puluhan tahun.
Kini, dengan pendekatan analisis geospasial yang lebih matang, dukungan regulasi, serta sinergi lintas sektor, Spaceport Biak diarahkan menjadi pijakan strategis menuju kemandirian antariksa Indonesia. Dari Papua, Indonesia menatap masa depan antariksa bukan lagi sebagai pengguna, melainkan sebagai pemain aktif di panggung global.