Leet Media

Imbauan Cak Imin untuk Pemudik: “Jakarta Sudah Penuh, Jangan Bawa yang Tidak Memiliki Skill”

April 1, 2025 By Rio Baressi

Sumber: Kompas.com

1 April 2025 – Menjelang arus balik Lebaran 2025, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin, memberikan imbauan penting kepada para pemudik. Dalam pernyataannya, ia menekankan agar masyarakat yang kembali ke Jakarta tidak membawa serta orang yang tidak memiliki keahlian atau pekerjaan yang jelas. Menurutnya, Jakarta saat ini sudah terlalu padat dan berisiko mengalami penumpukan penduduk yang semakin sulit dikendalikan.

Jakarta Sudah Penuh, Pendatang Harus Siap dengan Keterampilan

Dalam acara pelepasan Mudik Gratis PKB 2025 di Kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, pada Rabu (26/3/2025), Cak Imin menegaskan bahwa Jakarta sudah mengalami kepadatan penduduk yang sangat tinggi. Oleh karena itu, ia meminta para pemudik untuk tidak mengajak sanak saudara yang belum memiliki keterampilan atau kepastian kerja.

“Nah baliknya ini, Jakarta sudah penuh, jangan bawa yang tidak memiliki skill,” ujar Cak Imin saat ditemui di kantor PKB, Jakarta.

Ia mengkhawatirkan bahwa kehadiran warga tanpa pekerjaan yang jelas hanya akan memperparah kondisi sosial dan ekonomi di Jakarta. Oleh karena itu, ia mengimbau agar mereka yang belum siap secara profesional untuk tetap tinggal di kampung halaman dan mencari peluang di sana.

“Ya imbauan, kalau tidak punya pekerjaan yang jelas, jangan ke Jakarta dulu. Karena khawatir terjadi penumpukan,” tambahnya.

Belanjakan Uang di Kampung, Dukung UMKM Lokal

Selain imbauan untuk tidak membawa pendatang tanpa keterampilan, Cak Imin juga memberikan pesan kepada pemudik agar mereka membelanjakan tabungan mereka di kampung halaman. Menurutnya, mudik tidak hanya sekadar tradisi pulang kampung, tetapi juga menjadi momen penting untuk menggerakkan roda ekonomi di daerah asal.

“Uang tabungannya belanjakan sebanyak-banyaknya di kampung. Kalau perlu habiskan di kampung. Yang penting untuk memberdayakan UMKM,” kata Cak Imin.

Dengan membelanjakan uang di kampung halaman, perputaran ekonomi di daerah akan lebih hidup, sehingga masyarakat lokal dapat lebih berdaya dan tidak perlu bergantung pada perekonomian di ibu kota.

Mudik Gratis PKB 2025: Meringankan Beban Pemudik

Dalam kesempatan yang sama, Cak Imin juga memimpin pelepasan peserta Mudik Gratis PKB 2025. Sebanyak 20 bus diberangkatkan secara bertahap, membawa seribu pemudik ke berbagai daerah seperti Demak, Semarang, Yogyakarta, Klaten, dan Surabaya.

“Harapannya dengan mudik gratis ini bisa meringankan beban pemudik, membuat perjalanan lebih mudah, lancar, membahagiakan, dan sehat. Ini merupakan bagian dari bantuan PKB untuk masyarakat,” ujarnya.

Mudik Gratis ini merupakan bagian dari komitmen PKB dalam membantu masyarakat, terutama dalam menghadapi lonjakan harga transportasi saat musim mudik. Program ini juga diharapkan dapat mempererat tali silaturahmi antara perantau dan keluarga mereka di kampung halaman.

Mudik sebagai Tradisi yang Harus Dilestarikan

Lebih jauh, Cak Imin menegaskan bahwa mudik merupakan salah satu tradisi penting yang harus terus dilestarikan oleh masyarakat Indonesia. Ia melihat mudik sebagai momen berharga bagi para perantau untuk bertemu kembali dengan keluarga dan orang-orang tercinta di kampung halaman.

“Moga-moga ketemu keluarga dalam keadaan sehat dan lancar semua bahagia,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan agar para pemudik yang kembali ke Jakarta lebih bijak dalam mengatur keuangan serta memastikan bahwa mereka memiliki rencana yang jelas sebelum kembali merantau.

Imbauan Cak Imin kepada para pemudik tahun ini berfokus pada dua hal utama: tidak membawa pendatang tanpa keterampilan ke Jakarta dan mendorong pengeluaran di kampung halaman untuk mendukung perekonomian daerah. Dengan kondisi Jakarta yang sudah padat, penting bagi para pendatang untuk mempersiapkan diri dengan baik sebelum merantau. Sementara itu, mudik juga menjadi kesempatan emas untuk menggerakkan ekonomi lokal dan memperkuat hubungan sosial di kampung halaman.