January 2, 2026 By pj

2 Jan 2026 – Pemerintah bersama BUMN menghadirkan hunian sementara bagi warga terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang. Hunian ini dirancang tidak sekadar sebagai tempat berteduh darurat, tetapi sebagai ruang tinggal layak dengan fasilitas memadai yang mendukung pemulihan psikologis dan ekonomi warga pascabencana.
Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung progres pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak bencana di Aceh Tamiang pada Kamis 1 Januari 2026. Menggunakan mobil kepresidenan Maung berwarna putih yang tampak berdebu dan berlumpur akibat medan jalan, Presiden tiba di lokasi dan disambut ribuan warga.
Setibanya di kompleks hunian bertajuk Rumah Hunian Danantara, Presiden menyempatkan diri menyapa warga, menyalami mereka, bahkan mencium seorang anak laki-laki berpeci sebelum memulai peninjauan fisik bangunan hasil kolaborasi BUMN Karya.
“Fokus kita adalah bagaimana kita bisa mengurangi, meringankan penderitaan rakyat kita,” ujar Prabowo di lokasi.
Hunian sementara di Aceh Tamiang dibangun berderet rapi dengan konsep modular. Di antara blok bangunan, terdapat akses jalan yang mulai ditumbuhi rumput sehingga menghadirkan kesan asri dan tertata.
Setiap unit hunian berukuran 4,5 meter x 4,5 meter dan memiliki satu pintu serta satu jendela untuk memastikan sirkulasi udara. Bangunan menggunakan konsep lantai panggung dengan material triplek tebal dan antarunit dibatasi oleh sekat dinding.
Pada bagian depan unit, tertulis identitas Rumah Hunian Danantara yang menandai proyek pembangunan terpadu di kawasan tersebut.
Di dalam setiap unit, fasilitas dasar telah disiapkan secara lengkap. Warga akan mendapatkan dua tempat tidur, satu lemari plastik, kipas angin, meja makan, serta meteran listrik mandiri. Di bagian luar, kursi taman disediakan sebagai ruang bersantai, dilengkapi pot tanaman di setiap pintu hunian.
Salah satu fasilitas yang paling menarik perhatian adalah tersedianya akses internet gratis melalui jaringan WiFi dari Telkom Indonesia. Fasilitas ini memungkinkan warga tetap terhubung dengan dunia luar meski tinggal di hunian sementara.
“Ini contoh pak, kita sediakan juga wifi gratis,” ujar Dony saat memaparkan fasilitas hunian kepada Prabowo.
Keberadaan jaringan internet dinilai penting untuk menunjang aktivitas pendidikan, komunikasi, dan pemulihan ekonomi warga terdampak.
Selain hunian individu, kawasan huntara juga dilengkapi berbagai fasilitas umum yang mendukung kebutuhan dasar warga.
Di dalam kompleks tersedia klinik kesehatan serta taman bermain anak. Toilet umum juga disediakan secara terpisah untuk pria dan wanita guna menjaga kenyamanan dan kebersihan lingkungan.
Lingkungan sekitar hunian tahap pertama telah dilengkapi pagar besi kecil sebagai pembatas antara parit dan jalan aspal lintas nasional. Area hijau mulai ditata dengan penanaman rumput taman dan bunga.
Pembangunan huntara ini telah dimulai sejak 24 Desember 2025 dan ditargetkan mencapai 15.000 unit dalam tiga bulan ke depan di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Target pembangunan Rumah Hunian Danantara di Aceh Tamiang ditetapkan secara jelas sejak awal, dan capaian hingga 1 Januari 2026 menunjukkan komitmen kuat seluruh pihak untuk menepatinya,” ujar CEO BPI Danantara Rosan Roeslani melalui keterangan tertulis.
Sebanyak 600 unit pertama direncanakan akan diserahkan kepada warga terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang pada 8 Januari 2026, sementara pembangunan blok lainnya masih terus berlangsung.
Presiden Prabowo menyatakan kepuasannya setelah melihat langsung progres pembangunan hunian sementara tersebut.
“Luar biasa,” ujar Prabowo setelah meninjau langsung huntara di Aceh Tamiang.
Pemerintah berharap hunian sementara ini dapat menjadi jembatan penting menuju fase hunian permanen sekaligus mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat terdampak bencana.
Di tengah penanganan hunian sementara, BNPB juga menyalurkan bantuan tunai bagi warga yang memilih tidak menempati huntara dan tetap tinggal bersama keluarga.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyebut bantuan ini menyasar sekitar 11.414 orang dengan total dana yang telah disalurkan mencapai Rp 20.545.200.000.
“Jadi jumlah yang sudah disalurkan Rp 20.545.200.000,” ujar Suharyanto.
Setiap kepala keluarga menerima bantuan sekitar Rp 600 ribu per bulan selama tiga bulan.
Related Tags & Categories :