July 21, 2025 By pj
21 Juli 2025 – Indonesia mencatatkan diri sebagai negara dengan tingkat pembelian produk tertinggi di Asia Tenggara yang dipengaruhi oleh konten influencer. Berdasarkan laporan terbaru E-commerce Influencer Marketing in Southeast Asia 2025 yang dirilis oleh Impact dan Cube, sebanyak 76% konsumen Indonesia mengaku membeli produk karena dorongan dari influencer. Fenomena ini menunjukkan bahwa kekuatan digital marketing kini semakin bergantung pada figur-figur publik yang mampu membentuk pola konsumsi masyarakat.
Kecenderungan belanja masyarakat Indonesia kini sangat dipengaruhi oleh rekomendasi para influencer. Sebanyak 76% pembeli menyatakan bahwa mereka melakukan check out produk berdasarkan saran dari influencer, khususnya dalam kategori fashion dan kecantikan.
Jenis influencer yang paling dipercaya oleh konsumen adalah mega influencer dengan tingkat kepercayaan mencapai 71 persen. Diikuti oleh selebritas (67 persen), macro influencer (64 persen), micro influencer (50 persen), dan nano influencer (43 persen).
Meskipun data menunjukkan mega influencer lebih dipercaya, nama-nama influencer yang paling banyak disebut oleh konsumen ternyata didominasi oleh selebritas. Empat besar influencer yang mampu menggugah keputusan belanja masyarakat adalah Raffi Ahmad, Nagita Slavina, Fuji, dan Fadil Jaidi. Dua lainnya yang termasuk dalam kategori mega influencer adalah Tasya Farasya dan David Gadgetin.
Fenomena affiliate marketing semakin mengakar di Indonesia. Laporan mencatat bahwa “90 persen responden telah membeli melalui tautan afiliasi di brand.com atau platform e-commerce”. Mayoritas transaksi (96%) dilakukan melalui platform e-commerce seperti Shopee dan TikTok Shop.
Produk yang paling banyak dibeli melalui tautan afiliasi di Indonesia meliputi fashion (81 persen), kecantikan (69 persen), dan elektronik (63 persen). Ini merupakan angka tertinggi di Asia Tenggara, menandakan kekuatan pasar Indonesia dalam sektor ini.
Instagram menjadi platform paling dominan yang digunakan konsumen Indonesia untuk berinteraksi dengan influencer, dengan tingkat penggunaan mencapai 92 persen. Ini jauh di atas rata-rata kawasan Asia Tenggara yang hanya 75 persen. YouTube (90 persen) dan TikTok (87 persen) juga ikut berkontribusi besar dalam membentuk perilaku belanja berbasis tautan afiliasi.
Berdasarkan survei terhadap lebih dari 2.400 konsumen, kreator, dan pelaku industri dari enam negara di Asia Tenggara, laporan ini juga menunjukkan pergeseran signifikan dalam motivasi konsumen. Jika sebelumnya hiburan menjadi tujuan utama mereka menonton konten influencer, kini sebanyak 64 persen juga mencari konten edukatif yang relevan dan bernilai.
Marketplace seperti TikTok Shop dan Shopee menjadi magnet baru bagi program afiliasi. Sebanyak 34 persen konsumen menemukan produk melalui marketplace, mengungguli situs brand (32 persen) dan kanal influencer (31 persen). Bahkan, kategori kecantikan tercatat memberikan komisi tertinggi bagi para kreator.
Meski figur besar masih dominan, kepercayaan terhadap mereka mulai menurun. Pengaruh mega influencer terhadap keputusan belanja mengalami penurunan sebesar 7 poin dibanding tahun sebelumnya. Managing Director APAC Impact, Adam Furness, menyatakan bahwa:
“Brand harus mulai membangun kemitraan jangka panjang dengan kreator, bukan hanya mengejar jangkauan”.
Konsumen kini lebih mengapresiasi konten yang personal, relevan, dan orisinal, yang tidak hanya menjual tetapi juga memberikan nilai.
Related Tags & Categories :