November 5, 2026 By RB

Generasi Z atau Gen Z kerap mendapat label sebagai generasi yang malas bekerja, sulit diatur, terlalu sensitif, hingga tidak tahan menghadapi tekanan. Anggapan tersebut muncul karena sebagian anak muda dinilai tidak mau bekerja sampai larut malam, berani mempertanyakan keputusan atasan, atau lebih memprioritaskan kehidupan pribadi. Namun, benarkah Gen Z tidak mau bekerja keras? Sejumlah temuan dalam Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey menunjukkan bahwa generasi ini sebenarnya tetap memiliki ambisi karier, tetapi mempertimbangkan lebih banyak hal selain gaji dan jabatan.
Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey melibatkan 14.751 responden Gen Z dan 8.731 milenial dari 44 negara. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa pekerja muda tidak hanya mempertimbangkan penghasilan, tetapi juga mencari keseimbangan antara money, meaning, dan well-being.
Salah satu temuan menariknya, hanya 6 persen Gen Z yang menyebut posisi kepemimpinan senior sebagai tujuan utama karier mereka. Artinya, kenaikan jabatan bukan satu-satunya ukuran kesuksesan bagi generasi ini.
Bagi sebagian Gen Z, promosi jabatan memang menarik. Namun, jika posisi yang lebih tinggi hanya berarti tanggung jawab bertambah, beban kerja meningkat, dan waktu pribadi semakin berkurang, mereka cenderung mempertimbangkannya kembali.
Hal ini bukan berarti Gen Z tidak memiliki ambisi. Mereka justru ingin memastikan bahwa pekerjaan yang dijalani memberikan perkembangan dan manfaat yang sepadan dengan waktu serta energi yang dikeluarkan.
Selain penghasilan, kesempatan belajar dan mengembangkan keterampilan juga menjadi perhatian Gen Z. Dalam survei Deloitte, pembelajaran dan pengembangan diri termasuk tiga alasan teratas generasi ini ketika memilih perusahaan tempat bekerja.
Sebanyak 70 persen responden Gen Z mengatakan bahwa mereka mengembangkan keterampilan untuk kemajuan karier setidaknya sekali dalam seminggu.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pekerja muda tetap tertarik menghadapi tantangan. Mereka ingin kerja keras menghasilkan sesuatu, seperti pengalaman baru, kemampuan yang meningkat, kesempatan berkembang, hingga kompensasi yang sesuai.
Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata seberapa banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, tetapi juga apakah pekerjaan tersebut memberikan nilai bagi perkembangan karier mereka.
Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance juga menjadi hal penting bagi sebagian Gen Z. Mereka ingin tetap memiliki waktu untuk keluarga, teman, beristirahat, dan menjalani aktivitas di luar kantor.
Deloitte mencatat bahwa 89 persen Gen Z menganggap rasa memiliki tujuan atau sense of purpose penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan mereka.
Selain itu, Gen Z cenderung lebih nyaman dengan komunikasi yang terbuka dan tidak terlalu berjarak. Mereka bukan berarti tidak menghormati atasan, tetapi ingin memahami alasan di balik instruksi maupun keputusan perusahaan.
Kalimat “karena saya atasan” mungkin tidak cukup untuk menjelaskan mengapa suatu pekerjaan harus dilakukan. Mereka cenderung lebih mudah menerima arahan ketika mengetahui tujuan dan prioritasnya.
Perbedaan cara pandang antargenerasi juga tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi. Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z tumbuh dengan akses internet yang membuka lebih banyak pilihan untuk mendapatkan penghasilan.
Mulai dari berjualan secara daring, membuat konten, bekerja sebagai pekerja lepas, hingga memanfaatkan berbagai platform digital, peluang memperoleh penghasilan kini semakin beragam.
Cendekiawan Stanford, Roberta Katz, menyebut, “Generasi Z, generasi pertama yang tidak pernah mengenal dunia tanpa internet, menghargai keberagaman dan menemukan identitas unik mereka sendiri.”
Pernyataan tersebut dimuat dalam pembahasan mengenai buku Gen Z, Explained: The Art of Living in a Digital Age karya Roberta Katz dan Sarah Ogilvie yang diterbitkan University of Chicago Press pada 2021.
Akses informasi juga membuat pekerja muda lebih memahami hak-hak mereka. Ketika menghadapi eksploitasi, upah yang tidak sesuai, atau kondisi kerja yang tidak layak, mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk mencari informasi dan mempertanyakan perlakuan tersebut.
Meski begitu, bukan berarti seluruh sikap Gen Z dalam dunia kerja selalu benar. Pekerja muda tetap perlu belajar disiplin, bertanggung jawab, menerima kritik, dan memahami bahwa tidak semua pekerjaan berjalan sesuai keinginan pribadi.
Di sisi lain, perusahaan juga perlu mengevaluasi pola kerja yang masih menganggap karyawan harus menerima segala kondisi hanya karena generasi sebelumnya pernah mengalaminya.
Pada akhirnya, menyebut Gen Z sebagai generasi malas bekerja merupakan generalisasi yang tidak cukup menjelaskan perubahan dunia kerja. Mereka tetap ingin memperoleh penghasilan dan berkembang, tetapi juga mengharapkan lingkungan kerja yang adil, komunikasi terbuka, serta kehidupan pribadi yang tetap terjaga.
Mungkin persoalannya bukan Gen Z tidak mau bekerja, melainkan cara memaknai pekerjaan yang sudah berubah seiring perkembangan zaman.
Related Tags & Categories :