Leet Media

Wali Kota Saint-Denis Jadi Tameng Pelajar saat Demo Besar Prancis Memanas

October 8, 2026 By RB

Wali Kota Saint-Denis, Bally Bagayoko, menjadi sorotan setelah berdiri di antara demonstran pelajar dan polisi dalam aksi protes besar di Paris, Prancis. Ia terlihat berulang kali meminta aparat menghentikan langkah mereka ketika situasi demonstrasi memanas. Aksi tersebut berlangsung di tengah gelombang protes terkait kondisi sekolah menengah yang meluas ke sejumlah kota dan berujung bentrokan. Pemerintah Prancis melaporkan ratusan orang ditangkap dan ratusan pelajar maupun petugas mengalami luka-luka.

Bally Bagayoko Berdiri di Antara Pelajar dan Polisi

Bally Bagayoko, Wali Kota Saint-Denis yang berada di pinggiran utara Paris, terlihat berada di garis depan demonstrasi pelajar. Mengenakan jas dan dasi, ia berdiri di antara massa demonstran dan aparat kepolisian yang berusaha mengendalikan situasi.

Dalam rekaman dari lokasi kejadian, Bagayoko tampak berusaha menghalangi pergerakan polisi sekaligus meminta mereka menghentikan langkah. Sikapnya dinilai sebagai upaya melindungi pelajar dari dorongan aparat ketika ketegangan meningkat.

Bagayoko merupakan anggota La France Insoumise (LFI), partai politik sayap kiri di Prancis. Kehadirannya dalam demonstrasi turut memicu kritik, terutama setelah pernyataannya pekan sebelumnya mengenai kekerasan.

Ia sebelumnya menuai kecaman setelah menyatakan, “Kekerasan bisa menjadi sah pada titik tertentu.” Pernyataan tersebut menjadi salah satu hal yang disorot dalam pemberitaan mengenai keterlibatannya dalam aksi demonstrasi.

Demonstrasi Pelajar Prancis Berujung Bentrokan

Aksi protes yang berkaitan dengan kondisi sekolah menengah di Prancis berkembang menjadi demonstrasi besar di berbagai kota. Situasi di sejumlah lokasi dilaporkan diwarnai bentrokan antara demonstran dan aparat kepolisian.

Di Paris, polisi menggunakan gas air mata dan semprotan merica untuk menghadapi massa. Petugas antihuru-hara yang mengenakan perlengkapan pelindung juga menggunakan tameng dan tongkat untuk mendorong demonstran mundur.

Sebagian demonstran dilaporkan melempar batu serta pecahan trotoar ke arah petugas. Kepolisian Paris menyebut sedikitnya 300 perusuh berusaha menyerang aparat penegak hukum.

Di Rennes, wilayah barat laut Prancis, polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan demonstran. Sementara itu, surat kabar Le Parisien melaporkan adanya dugaan ajakan membawa pisau dan menyerang warga sipil di sekitar sebuah sekolah menengah di Strasbourg. Informasi tersebut dikaitkan dengan pesan yang beredar di Snapchat dan laporan mengenai potensi kekerasan saat aksi blokade sekolah.

Ratusan Ribu Orang Turun ke Jalan

Kementerian Dalam Negeri Prancis menyatakan sekitar 256.000 orang mengikuti demonstrasi di seluruh negeri, termasuk 56.000 orang di Paris. Jumlah tersebut melampaui perkiraan sebelumnya dan menunjukkan besarnya skala mobilisasi massa.

Aksi itu juga diikuti puluhan ribu anggota serikat pekerja. Keterlibatan berbagai kelompok membuat demonstrasi tidak hanya melibatkan pelajar, tetapi juga masyarakat yang menyuarakan tuntutan melalui aksi massa.

Besarnya demonstrasi mendorong Presiden Emmanuel Macron menggelar pertemuan darurat untuk membahas situasi yang berkembang. Aksi protes tersebut disebut sebagai salah satu gelombang demonstrasi anak muda terbesar di Prancis dalam beberapa dekade terakhir.

Korban Luka dan Penangkapan Jadi Sorotan

Pemerintah Prancis melaporkan 215 pelajar dan 715 petugas kepolisian mengalami luka-luka sejak gerakan protes dimulai. Selain itu, seorang pelajar berusia 15 tahun dilaporkan kehilangan tangan setelah mengambil granat kejut yang ditembakkan polisi pada Senin.

Rekaman dari lokasi memperlihatkan sejumlah orang memberikan pertolongan kepada remaja tersebut ketika ia terbaring di trotoar. Laporan itu menambah perhatian terhadap risiko keselamatan yang muncul selama bentrokan.

Di sisi lain, seorang remaja berusia 15 tahun juga ditangkap pada Senin karena diduga terlibat dalam serangan berkelompok terhadap seorang polisi perempuan di Paris. Secara keseluruhan, demonstrasi tersebut dilaporkan telah menyebabkan hampir 500 penangkapan.

Penggunaan Kekuatan Aparat Menuai Kritik

Kelompok pembela hak asasi manusia, serikat pekerja, dan pelajar menuduh aparat menggunakan kekuatan yang tidak proporsional dalam menangani demonstrasi. Kritik tersebut muncul bersamaan dengan laporan mengenai korban luka dan penggunaan berbagai perlengkapan pengendalian massa.

Namun, bentrokan juga diwarnai tindakan demonstran yang melempar batu dan benda keras ke arah polisi. Kondisi ini memperlihatkan meningkatnya ketegangan antara massa dan aparat di sejumlah lokasi.

Hingga situasi tersebut menjadi perhatian pemerintah, demonstrasi di Prancis memperlihatkan tantangan dalam menjaga keamanan publik sekaligus melindungi hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada penanganan pemerintah terhadap tuntutan demonstran dan upaya mencegah kekerasan berulang.

Related Tags & Categories :

highlight