September 8, 2026 By RB

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ulta Levenia Nababan tengah menjadi sorotan tajam publik usai melontarkan berbagai spekulasi kontroversial terkait rentetan bencana alam di Indonesia. Pernyataan yang mengaitkan fenomena erupsi enam gunung berapi, kebakaran hutan, hingga banjir bandang dengan campur tangan pihak asing serta teknologi militer HAARP langsung memicu polemik berskala nasional. Narasi konspirasi dari pejabat lingkungan istana ini mendapat sanggahan keras dari para akademisi dan pakar kebencanaan yang menilai pandangan tersebut minim literasi sains serta berpotensi memunculkan kebingungan massal di tengah masyarakat.
Ulta Levenia memantik perdebatan setelah mengunggah pandangan skeptisnya melalui akun Instagram pribadi pada Senin, 7 September 2026. Ia mempertanyakan rentetan erupsi enam gunung berapi di Indonesia yang terjadi secara berdekatan pada awal September. “Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman dengan Putin, 6 gunung vulkanik erupsi bersamaan?” tulis Ulta dalam unggahannya. Spekulasi ini turut menyeret nama High-frequency Active Auroral Research Program atau HAARP, sebuah proyek penelitian ionosfer Amerika Serikat yang sering dijadikan kambing hitam dalam berbagai teori konspirasi cuaca global.
Sikap skeptis Ulta tidak berhenti pada fenomena letusan gunung berapi. Saat tampil di kanal YouTube Reform Syndicate, ia menduga sejumlah bencana dan gejolak sosial di Indonesia sengaja diorkestrasi oleh pihak luar. Ulta menghubungkan pemikirannya dengan bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, serta kebakaran hutan di Kalimantan dan Papua. “Gua sempat ngobrol sama teman gua tuh, ini kok bisa kayak gini yah. Aceh dan Papua bergejolak, Habis itu Kalimantan,” tuturnya.
Ulta mengaku pemikiran konspirasi tersebut semakin kuat setelah menonton sebuah film yang merangkum berbagai keanehan bencana. Ia pun mengaitkan gempa bumi mematikan di Turki dan China pada masa lalu dengan momen ketegangan diplomatik kedua negara tersebut bersama Amerika Serikat. “Tapi dulu pernah di Turki sama di China. Mereka pernah gesekan sama Amerika,” ujarnya. “Pasti gue bakal dibilang gila ini,” tambah Ulta, sebelum akhirnya menegaskan keyakinannya, “Sehingga gua 73,5 persen, wah ini pasti ada yang orkestrasi. Kemudian ada demonstrasi,” pungkasnya.
Pernyataan yang menyebarkan teori konspirasi tanpa landasan empiris tersebut langsung mendapat kritik tajam dari kalangan akademisi. Haryanto Ignatius, akademisi dari Universitas Multimedia Nusantara, menilai dugaan tersebut sangat tidak pantas disampaikan oleh seorang pejabat pemerintah. Haryanto menyebut Ulta sebagai cerminan pejabat yang tidak memiliki literasi memadai sebelum menyebarkan narasi kepada publik.
“Inilah contoh pejabat kurang literasi. Kurang baca,” kata Haryanto saat memberikan tanggapan pada Selasa, 8 September 2026. Ia meminta tenaga ahli istana tersebut untuk mendalami informasi dari sumber tepercaya sebelum mengaitkan peristiwa alam dengan konspirasi. “Gampang benar ngomong konspirasi. Mbak, banyakin baca sebelum ngomong,” ungkapnya tegas.
Menurut Haryanto, narasi orkestrasi asing sama sekali tidak memberikan edukasi atau penjelasan yang dibutuhkan masyarakat. Hal tersebut justru membuat publik semakin bingung dalam memahami mitigasi bencana yang sebenarnya. “Anda cuma mempertontonkan kebodohan anda di depan publik,” ujar Haryanto menyoroti dampak buruk dari pernyataan tersebut.
Pakar kebencanaan turut turun tangan meredam spekulasi liar yang menyangkutpautkan teknologi dengan bencana alam. Daryono, pakar kebencanaan sekaligus mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), membantah keras adanya campur tangan rekayasa manusia. “Tudingan erupsi disebabkan teknologi konspirasi sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian,” tegas Daryono pada Selasa, 8 September 2026.
Daryono menjelaskan secara saintifik bahwa erupsi adalah proses pelepasan energi endogenik bumi yang berasal dari kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer di bawah permukaan. Kondisi geografis Indonesia yang berada tepat di jalur Cincin Api Pasifik membuat aktivitas vulkanik beruntun sangat wajar terjadi ketika kantong magma berada dalam fase kritis akibat dorongan pergerakan lempeng tektonik. Skala energi alamiah ini mustahil dikendalikan oleh teknologi manusia mana pun.
Berdasarkan tinjauan sains dan keilmuan pakar, fenomena erupsi beruntun harus dipandang mutlak sebagai siklus alamiah geologi Indonesia. Daryono mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh narasi yang mengabaikan sains dasar. “Erupsi gunung api adalah keniscayaan dinamis geologi bumi, bukan tombol kendali otomatis,” katanya mematahkan argumen konspirasi. Memahami dinamika bumi secara ilmiah sangat krusial agar situasi krisis kebencanaan tidak dimanfaatkan sebagai bahan bakar penyebaran disinformasi yang merugikan upaya mitigasi dan keselamatan publik.
Related Tags & Categories :