Leet Media

Sejarah dan Teknologi IMAX 70mm, Dari Expo 70 hingga The Odyssey

August 20, 2026 By RB

20 Agustus 2026 – Teknologi IMAX 70mm merupakan salah satu pencapaian penting dalam sejarah sinematografi layar raksasa. Format ini tidak hanya mengandalkan ukuran film yang lebih besar, tetapi juga memadukan kamera khusus, mekanisme proyeksi Rolling Loop, serta sistem optik yang dirancang untuk menghasilkan gambar sangat detail dan imersif. Perkembangannya bermula dari eksperimen di pameran dunia hingga menjadi bagian penting dari produksi film Hollywood, termasuk The Dark Knight dan The Odyssey.

Awal mula teknologi IMAX

Cikal bakal IMAX bermula dari eksperimen sinema layar lebar pada Expo ’67 di Montreal, Kanada. Saat itu, sistem multi-proyektor digunakan untuk menciptakan pengalaman visual imersif. Namun, penggunaan lima proyektor secara bersamaan menghadapi persoalan sinkronisasi dan sambungan antargambar yang sulit dibuat sempurna.

Dari persoalan tersebut muncul gagasan untuk menggunakan satu sumber gambar berukuran sangat besar. Ide itu kemudian mendapat kesempatan berkembang ketika penyelenggara Expo ’70 di Osaka membutuhkan tontonan sinematik baru. Para pengembang IMAX akhirnya membangun sistem kamera dan proyektor yang mampu menangani film berformat besar dalam waktu kurang dari dua tahun.

Film Tiger Child yang ditayangkan di Expo ’70 menjadi film IMAX pertama. Kesuksesan tersebut kemudian berlanjut dengan dibukanya Cinesphere di Toronto pada 1971 sebagai teater IMAX permanen pertama di dunia.

Mengapa IMAX 70mm berbeda

Film 15 per 70mm

Salah satu keunggulan utama IMAX analog terletak pada format 15/70mm. Berbeda dari film konvensional yang bergerak vertikal, film IMAX ditarik secara horizontal melewati gerbang eksposur. Setiap frame memiliki 15 perforasi sehingga area tangkapan gambarnya jauh lebih besar.

Dokumen riset mencatat ukuran frame IMAX 15/70mm mencapai sekitar 70,41 x 52,63 milimeter. Luas tersebut sekitar sepuluh kali area tangkapan film 35mm standar. Ukuran besar inilah yang memungkinkan IMAX menghasilkan detail visual dan bidang pandang yang sangat luas.

Cara kerja Rolling Loop

Film berukuran besar membutuhkan mekanisme proyeksi yang berbeda. Jika ditarik secara paksa seperti pada proyektor konvensional, perforasi film dapat mengalami kerusakan.

IMAX mengatasi persoalan tersebut menggunakan sistem Rolling Loop yang dikembangkan dari paten Ron Jones dan kemudian disempurnakan Bill Shaw. Mekanisme ini membuat film bergerak dalam bentuk gelombang atau loop, sementara sistem udara, pin registrasi, dan vakum membantu menjaga kestabilan frame ketika diproyeksikan.

Dari dokumenter menuju film Hollywood

Pada awal perkembangannya, IMAX lebih banyak digunakan untuk film dokumenter pendidikan, sains, alam, dan eksplorasi luar angkasa. Kamera 15/70mm terlalu berat, biaya produksi film sangat mahal, dan kapasitas proyektor menjadi kendala untuk film berdurasi panjang.

Perubahan besar terjadi pada 2002 melalui teknologi IMAX DMR atau Digital Media Remastering. Teknologi tersebut memungkinkan film Hollywood yang sebelumnya dibuat dalam format 35mm diproses ulang agar dapat ditampilkan dalam ekosistem IMAX.

Tonggak penting berikutnya datang melalui The Dark Knight pada 2008. Christopher Nolan mulai menggunakan kamera IMAX 65mm secara langsung untuk sejumlah adegan, membuka jalan bagi penggunaan format tersebut dalam film blockbuster.

Tantangan suara pada kamera IMAX

Keunggulan visual IMAX 15/70mm memiliki konsekuensi teknis. Kamera generasi lama menghasilkan suara mekanis sangat keras sehingga menyulitkan perekaman dialog secara langsung. Karena itu, produksi film sering menggunakan kamera 65mm konvensional untuk adegan dialog atau mengandalkan ADR setelah proses syuting.

Masalah tersebut menjadi salah satu alasan mengapa penggunaan IMAX 15/70mm secara penuh dalam film berdurasi panjang begitu sulit.

Kamera Keighley dan era baru IMAX

Menurut dokumen riset, tantangan tersebut kemudian mendapat solusi melalui pengembangan Kamera Keighley untuk The Odyssey pada 2026. Kamera ini dirancang untuk meredam kebisingan kamera IMAX tanpa menghilangkan kemampuan merekam menggunakan format 15/70mm.

Perkembangan tersebut menjadi penting karena memungkinkan The Odyssey direkam sepenuhnya menggunakan kamera IMAX 15/70mm tanpa harus berganti ke format kamera lain. Dengan demikian, teknologi yang lahir dari eksperimen layar raksasa pada era 1970-an kembali menemukan relevansinya dalam produksi film modern.

IMAX 70mm dan Teater Keong Emas

Indonesia juga memiliki sejarah penting dalam perkembangan IMAX melalui Teater IMAX Keong Emas di Taman Mini Indonesia Indah. Fasilitas tersebut diresmikan pada 20 April 1984 dan dirancang sebagai sarana edukasi serta hiburan dengan layar raksasa.

Kehadiran Keong Emas menunjukkan bahwa teknologi layar raksasa IMAX pernah menjadi bagian dari perkembangan sinema Indonesia sejak dekade 1980-an. Namun, evolusi industri menuju proyeksi digital membuat format analog 15/70mm semakin langka.

Pada akhirnya, sejarah IMAX 70mm menunjukkan bagaimana inovasi sinema berkembang melalui perpaduan antara kebutuhan artistik dan rekayasa teknologi. Dari Tiger Child, Rolling Loop, DMR, hingga Kamera Keighley, IMAX terus beradaptasi untuk mempertahankan pengalaman layar raksasa yang berbeda dari pemutaran digital konvensional.

Related Tags & Categories :

Modul