Leet Media

Ngerinya Karhutla di Kalimantan hingga Berimbas ke Negara Tetangga

August 22, 2026 By RB

22 Agustus 2026 – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menjadi perhatian di Kalimantan pada Agustus 2026. Ribuan titik panas terdeteksi di berbagai wilayah, dengan konsentrasi tertinggi berada di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar lokasi kebakaran, tetapi juga berpotensi meluas ke negara tetangga akibat kabut asap. Kondisi tersebut bahkan membuat 108 sekolah di Serian, Sarawak, Malaysia, ditutup sementara setelah kualitas udara masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Ribuan Hotspot Terdeteksi di Kalimantan

Berdasarkan pemantauan Satelit NOAA-20 hingga Kamis, 20 Agustus 2026, BNPB mencatat sebanyak 1.487 hotspot tersebar di wilayah Kalimantan. Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan konsentrasi tertinggi, yakni 767 titik, disusul Kalimantan Barat sebanyak 560 titik. Sementara itu, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing mencatat 74 titik, sedangkan Kalimantan Utara terpantau tiga titik.

Besarnya jumlah titik panas tersebut menunjukkan bahwa risiko karhutla masih tinggi di tengah musim kemarau. Pemerintah daerah bersama BNPB terus melakukan pemantauan, pemetaan wilayah rawan, deteksi dini, hingga penguatan sarana pemadaman untuk mencegah api meluas. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran di wilayah yang mudah terbakar serta segera melaporkan apabila menemukan kebakaran.

Karhutla Kalimantan Berdampak hingga Malaysia

Dampak karhutla tidak berhenti di wilayah Indonesia. Asap yang terbawa angin dapat mengganggu kualitas udara di negara tetangga. Di Sarawak, Malaysia, sebanyak 108 sekolah di wilayah Serian ditutup sementara karena Indeks Pencemaran Udara atau API melewati ambang batas yang ditetapkan.

JPBN Sarawak menyebut sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak akan ditutup ketika API mencapai angka 200. Pada 20 Agustus, pembacaan API mencapai 212 di Tebedu dan 202 di Serian, yang masuk kategori sangat tidak sehat. Sebanyak 11 wilayah lain juga berada dalam kategori tidak sehat.

Mengapa Kebakaran Hutan di Kalimantan Sulit Dipadamkan

Aktivitas Manusia dan Pembukaan Lahan

Karhutla tidak semata-mata disebabkan kondisi cuaca. Studi yang dimuat dalam portal literasi sejarah bencana BNPB menyebut sebagian besar karhutla di Indonesia dipicu aktivitas manusia atau faktor antropogenik. Pembukaan lahan dengan cara membakar masih dilakukan karena dianggap lebih cepat dan murah, tetapi api dapat menyebar ketika kondisi vegetasi sangat kering.

Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Budi Irawan bahkan menyatakan, “99 persen lahan yang terbakar ini karena ulah manusia.” Namun, BNPB menegaskan pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks kebakaran yang ditangani di Kubu Raya dan tidak serta-merta menjadi angka untuk seluruh kebakaran di Kalimantan.

Kemarau dan Fenomena El Niño

Musim kemarau membuat vegetasi dan permukaan tanah kehilangan kelembapan sehingga lebih mudah terbakar. Kondisi tersebut diperparah oleh El Niño yang dapat mengurangi curah hujan dan memperpanjang periode kering. BMKG mencatat indeks Niño 3.4 mencapai 1,56 pada akhir Juli dan memperkirakan risiko karhutla mencapai periode tinggi pada Agustus hingga September.

Lahan Gambut Menyimpan Bara

Lahan gambut menjadi salah satu faktor yang membuat karhutla sulit dikendalikan. Ketika gambut kehilangan air dan mengering, api dapat merambat ke lapisan bawah tanah. Bara yang tidak terlihat dari permukaan dapat bertahan dan kembali memunculkan asap atau api setelah area terlihat padam. Karena itu, pemadaman di lahan gambut membutuhkan pembasahan yang lebih menyeluruh dan dapat dilakukan berulang kali.

Dampak Karhutla bagi Masyarakat dan Lingkungan

Karhutla menimbulkan dampak multidimensi, mulai dari gangguan kesehatan hingga kerusakan ekosistem. Kabut asap dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Di sisi lain, kebakaran juga mengancam keanekaragaman hayati, meningkatkan emisi karbon, serta mengganggu aktivitas ekonomi, transportasi, pertanian, dan perdagangan.

Kondisi ini menjadi semakin serius karena hutan Kalimantan merupakan habitat berbagai flora dan fauna penting, termasuk orangutan Borneo, bekantan, dan beruang madu Kalimantan. Kerusakan habitat akibat kebakaran berpotensi memperbesar ancaman terhadap keberlangsungan satwa-satwa tersebut.

Upaya Pemerintah Menangani Karhutla

Pemerintah melakukan sejumlah langkah, mulai dari pemadaman darat, patroli gabungan, operasi modifikasi cuaca, hingga penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan. Pada 13–17 Agustus 2026, BMKG melaksanakan penyemaian awan di Kalimantan Barat dengan sembilan sorti penerbangan dan menghasilkan estimasi 10,92 juta meter kubik curah hujan. Selain itu, sebanyak 12.880 personel gabungan dikerahkan untuk pemadaman dan deteksi dini.

Penanganan karhutla juga membutuhkan strategi jangka panjang. Studi peneliti UGM menekankan pentingnya perbaikan kondisi sosial-ekonomi masyarakat sekitar hutan, penguatan perhutanan sosial, penyediaan alternatif pembukaan lahan tanpa bakar, serta tata kelola lahan yang lebih baik. Dengan demikian, penanganan tidak hanya berfokus pada memadamkan api, tetapi juga mencegah sumber kebakaran muncul kembali.

Related Tags & Categories :

highlight

Leet OG

Leethania