Leet Media

Protes Tambang Nikel Raja Ampat Menggema di Pembukaan GIIAS 2026

August 1, 2026 By RB

Greenpeace

1 Agustus 2026 – Aksi damai Greenpeace Indonesia di pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show atau GIIAS 2026 menjadi sorotan publik. Aktivis membentangkan spanduk bertuliskan “Protect Raja Ampat, Stop Dirty Energy” dan “Is Your Car Powered by Forest Destruction?” sebagai bentuk protes terhadap dugaan keterkaitan industri kendaraan listrik dengan kerusakan lingkungan akibat tambang nikel di Raja Ampat, Papua Barat Daya.

Greenpeace Gelar Aksi Damai Saat Pembukaan GIIAS 2026

Aksi berlangsung pada Kamis, 30 Juli 2026, di ICE BSD, Tangerang, Banten. Momen tersebut terjadi ketika Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekan tombol pembukaan pameran otomotif terbesar di Indonesia itu.

Para aktivis Greenpeace membentangkan spanduk dan menyuarakan perlindungan terhadap kawasan Raja Ampat yang dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Aksi ini dilakukan bersamaan dengan peluncuran laporan terbaru Greenpeace Indonesia berjudul Surga yang Tak Terlindungi.

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Anggi Putra Prayoga, menjelaskan bahwa aksi tersebut ditujukan untuk mempertanyakan sumber energi dan bahan baku yang digunakan industri kendaraan listrik.

“Lewat aksi damai hari ini, kami ingin menanyakan kepada para produsen kendaraan listrik tentang muasal energi yang mereka gunakan apakah rantai pasok mereka terhubung dengan penambangan yang menyebabkan deforestasi dan merusak lingkungan,” kata Anggi, dikutip dari laman resmi Greenpeace Indonesia, Jumat, 31 Juli 2026.

Laporan Greenpeace Ungkap Ancaman Tambang Nikel di Raja Ampat

Dalam laporan Surga yang Tak Terlindungi, Greenpeace menyebut sedikitnya tiga perusahaan sedang memproses izin pertambangan nikel di bagian timur Pulau Waigeo.

Laporan tersebut juga menyoroti potensi keterhubungan rantai pasok nikel dari PT Gag Nikel yang beroperasi di Pulau Gag. Greenpeace mengacu pada hasil audit Kementerian Lingkungan Hidup yang sebelumnya mengidentifikasi 24 pelanggaran lingkungan terkait aktivitas perusahaan tersebut.

Selain itu, Greenpeace mencatat bahwa aktivitas tambang nikel di kawasan Raja Ampat telah menyebabkan deforestasi lebih dari 500 hektare di wilayah pulau-pulau kecil yang memiliki nilai ekologis tinggi.

Kekhawatiran Terhadap Industri Kendaraan Listrik

Greenpeace menilai transisi menuju kendaraan listrik seharusnya tidak mengorbankan kawasan konservasi dan hutan tropis yang penting bagi keanekaragaman hayati global.

Organisasi lingkungan tersebut menekankan bahwa meningkatnya permintaan nikel untuk produksi baterai kendaraan listrik perlu disertai pengawasan ketat terhadap rantai pasok. Menurut Greenpeace, produsen kendaraan listrik dan baterai memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahan baku yang digunakan tidak berasal dari kawasan yang mengalami kerusakan lingkungan serius.

Desakan Perlindungan Permanen Raja Ampat

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia lainnya, Belgis Habiba, menegaskan bahwa pencabutan sejumlah izin tambang oleh pemerintah pada tahun sebelumnya belum cukup menjamin keselamatan kawasan Raja Ampat.

“Greenpeace mendesak perlindungan Raja Ampat secara penuh dan permanen dari aktivitas industri yang merusak, serta penegakan hukum demi melindungi pulau-pulau kecil dan area konservasi,” ujar Belgis.

Menurut Greenpeace, perlindungan permanen diperlukan karena pulau-pulau kecil di Raja Ampat memiliki fungsi ekologis yang sangat penting, baik sebagai habitat spesies endemik maupun sebagai penyangga ekosistem laut.

Seruan Untuk Produsen Baterai dan Kendaraan Listrik

Greenpeace meminta produsen kendaraan listrik dan produsen baterai untuk melakukan pelacakan menyeluruh terhadap rantai pasok nikel yang mereka gunakan. Organisasi tersebut juga mendesak perusahaan untuk menolak pasokan nikel yang berasal dari Raja Ampat maupun kawasan lain yang memiliki nilai penting bagi keanekaragaman hayati.

Isu tambang nikel Raja Ampat kini menjadi bagian dari perdebatan yang lebih luas mengenai transisi energi bersih. Di satu sisi, kendaraan listrik dipromosikan sebagai solusi pengurangan emisi karbon. Namun di sisi lain, proses penambangan bahan baku baterai seperti nikel memunculkan pertanyaan tentang dampak lingkungan dan keberlanjutan rantai pasoknya.

Aksi Greenpeace di GIIAS 2026 menunjukkan bahwa tuntutan terhadap industri otomotif dan kendaraan listrik tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi, tetapi juga menyangkut perlindungan hutan, pulau-pulau kecil, dan kawasan konservasi penting seperti Raja Ampat.

Related Tags & Categories :

highlight