June 20, 2026 By RB

20 Juni 2026 – Ada banyak simbol visual yang digunakan sineas untuk membangun karakter di layar. Salah satu yang paling menarik adalah kebiasaan para villain atau tokoh antagonis yang sering terlihat meminum susu. Mulai dari Alex DeLarge dalam A Clockwork Orange, Hans Landa di Inglourious Basterds, Homelander dalam The Boys, hingga Victor Frankenstein dalam adaptasi terbaru karya Guillermo del Toro. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari bahasa sinematik yang memiliki makna psikologis dan simbolis yang kuat.
Secara umum, susu identik dengan masa kanak-kanak, kepolosan, dan kemurnian. Minuman ini sering diasosiasikan dengan kasih sayang seorang ibu, pertumbuhan, serta kehidupan yang sehat. Karena itu, ketika karakter jahat meminum susu, muncul kontras yang membuat penonton merasa tidak nyaman.
Profesor sastra Inggris Matthew Beaumont pernah menjelaskan bahwa susu secara simbolis memiliki hubungan yang kuat dengan gagasan tentang kepolosan dan kemurnian. Dalam konteks film, simbol tersebut kemudian dibalik. Sosok yang tampak polos dan tidak berbahaya justru menyimpan niat buruk atau kecenderungan kejam.
Salah satu contoh paling jelas terlihat dalam film Frankenstein versi Guillermo del Toro. Victor Frankenstein kerap terlihat meminum susu saat karakter lain menikmati anggur merah. Perbedaan visual ini membuat penonton merasa ada sesuatu yang tidak biasa pada dirinya, terlebih ketika ia membicarakan eksperimen menciptakan kehidupan dari kematian.
Dalam dunia perfilman, kontras merupakan alat yang sangat efektif untuk menciptakan ketegangan. Ketika seseorang yang tampak lembut melakukan tindakan kejam, dampaknya terasa lebih mengganggu dibandingkan jika tindakan tersebut dilakukan oleh sosok yang sejak awal terlihat menakutkan.
Inilah alasan mengapa banyak sutradara memilih susu sebagai properti visual bagi karakter antagonis. Minuman yang identik dengan kebaikan dipadukan dengan karakter yang melakukan kekerasan atau manipulasi. Hasilnya adalah rasa tidak nyaman yang muncul secara bawah sadar pada penonton.
Contoh paling terkenal adalah Hans Landa dalam Inglourious Basterds. Dalam salah satu adegan ikonik, ia meminta segelas susu saat berbicara dengan seorang petani. Beberapa menit kemudian, ia memerintahkan pembantaian terhadap keluarga Yahudi yang bersembunyi di bawah lantai rumah tersebut. Adegan itu menjadi salah satu momen paling menegangkan dalam sejarah film modern.
Selain melambangkan kepolosan, susu juga sering dikaitkan dengan kebutuhan emosional dan hubungan antara anak dan orang tua.
Dalam kasus Victor Frankenstein, kebiasaannya meminum susu dapat ditafsirkan sebagai simbol kerinduan terhadap sosok ibu yang meninggal saat ia masih kecil. Namun, pada saat yang sama, ia tumbuh menjadi sosok yang mampu mengabaikan dan menyakiti ciptaannya sendiri. Kontradiksi inilah yang membuat karakternya terasa kompleks sekaligus mengerikan.
Fenomena serupa juga terlihat pada Homelander dalam serial The Boys. Menurut Antony Starr, aktor yang memerankan karakter tersebut, obsesi Homelander terhadap susu berawal dari rasa cemburu terhadap bayi yang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari sosok ibu. Ia menyebutnya sebagai hubungan yang bersifat “Oedipal” atau berkaitan dengan kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.
Dengan kata lain, susu dalam banyak film tidak hanya berfungsi sebagai minuman biasa, tetapi juga sebagai simbol kebutuhan psikologis yang mendalam.
Teoretikus sastra Prancis Roland Barthes dalam esainya Wine and Milk menyebut susu sebagai simbol kekuatan. Berbeda dengan anggur yang melambangkan gairah dan transformasi, susu dianggap mewakili ketenangan, kemurnian, dan kekuatan yang stabil.
Namun dalam film, makna tersebut sering dibalik menjadi simbol dominasi dan kontrol.
Dalam film Babygirl misalnya, segelas susu digunakan sebagai alat untuk menguji kepatuhan seseorang dalam hubungan yang penuh ketimpangan kekuasaan. Susu bukan lagi lambang kepolosan, melainkan instrumen yang menunjukkan siapa yang memegang kendali.
Karena itu, ketika villain meminum susu, penonton sering kali melihat adanya permainan kuasa yang sedang berlangsung. Tindakan sederhana tersebut menjadi isyarat bahwa karakter tersebut memiliki kendali atas situasi atau bahkan atas orang lain.
Meski trope ini sangat populer, tidak semua karakter yang meminum susu digambarkan sebagai tokoh jahat. Joey Tribbiani dalam serial Friends adalah contoh karakter yang lucu dan menggemaskan meski memiliki kebiasaan minum susu dalam jumlah besar.
Karakter Tim dalam miniseri Fellow Travelers juga menunjukkan bahwa susu masih dapat digunakan sebagai simbol kepolosan dan ketulusan. Hal ini membuktikan bahwa makna susu tetap bergantung pada konteks cerita dan karakter yang mengonsumsinya.
Namun karena begitu banyak villain ikonik yang identik dengan susu, trope ini kini telah menjadi semacam bahasa visual yang mudah dikenali oleh penonton.
Jawaban sederhananya adalah karena trope ini efektif. Susu menciptakan kontras yang kuat antara penampilan dan kenyataan. Karakter terlihat tenang, bersih, bahkan polos, tetapi di balik itu tersembunyi niat jahat atau perilaku berbahaya.
Seiring waktu, simbol ini semakin mengakar dalam budaya populer. Banyak pembuat film akhirnya menggunakan susu sebagai jalan pintas visual untuk memberi sinyal kepada penonton bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan karakter tersebut.
Jadi, lain kali ketika melihat seorang villain menyesap segelas susu di layar, kemungkinan besar itu bukan sekadar pilihan minuman. Ada pesan simbolis yang sedang disampaikan kepada penonton bahwa sosok tersebut mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang terlihat.
Related Tags & Categories :