February 4, 2026 By pj

4 Februari 2026 – Prilly Latuconsina akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka terkait polemik penggunaan fitur Open to Work di LinkedIn yang memicu reaksi publik. Melalui video klarifikasi yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Prilly mengakui kurangnya empati dalam unggahan tersebut dan menegaskan bahwa ia tidak pernah berniat meremehkan perjuangan para pencari kerja di tengah situasi ekonomi yang sulit.
Polemik bermula ketika Prilly mengaktifkan fitur Open to Work di akun LinkedIn miliknya. Unggahan tersebut kemudian memicu lonjakan koneksi hingga puluhan ribu akun dalam waktu singkat. Reaksi publik pun bermunculan, dengan sebagian warganet menilai tindakan tersebut tidak sensitif terhadap kondisi para pencari kerja yang sedang kesulitan memperoleh pekerjaan.
Kritik yang muncul menyoroti posisi Prilly sebagai figur publik yang dinilai memiliki privilese lebih dibandingkan mayoritas pengguna LinkedIn lainnya.
Menanggapi kegaduhan tersebut, Prilly menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ia menyadari bahwa unggahannya memunculkan berbagai emosi, mulai dari rasa marah hingga kekecewaan.
“Pertama-tama, aku minta maaf dengan tulus kalau apa yang terjadi telah menimbulkan rasa enggak nyaman atau kesalahpahaman,” ujar Prilly dalam video klarifikasinya.
Ia juga menegaskan bahwa polemik yang terjadi berada di luar kendalinya, namun tetap bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan dari unggahan tersebut.
Dalam penjelasannya, Prilly secara jujur mengakui adanya celah empati yang tidak ia sadari sebelumnya. Ia memahami bahwa pengalaman hidup dan posisinya tidak sama dengan kebanyakan orang.
“Aku sadar, posisiku dan pengalaman hidupku tidak sama dengan semua orang, dan aku mengerti kenapa hal ini bisa terasa menyakitkan bagi sebagian pihak,” tuturnya.
Pengakuan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam klarifikasi, sekaligus penegasan bahwa ia tidak berniat bersikap tidak sensitif terhadap kondisi masyarakat.
Prilly menjelaskan bahwa penggunaan fitur Open to Work bukan dimaksudkan untuk mencari pekerjaan tetap atau mengambil peluang orang lain. Menurutnya, fitur tersebut digunakan sebagai sarana membuka peluang kolaborasi lintas industri dan memperluas jejaring profesional di bidang yang belum pernah ia coba sebelumnya.
“Terkait penggunaan fitur Open to Work, aku ingin menggunakannya sebagai cara untuk membuka peluang kolaborasi lintas industri dan memperluas jejaring profesional,” jelas Prilly.
Namun demikian, ia mengakui bahwa cara penyampaiannya kurang tepat sehingga menimbulkan persepsi yang keliru di tengah publik.
Selain polemik Open to Work, Prilly juga menjelaskan soal akun LinkedIn miliknya yang sempat tidak dapat diakses. Ia menyebut kondisi tersebut terjadi akibat lonjakan aktivitas yang sangat tinggi dan berada di luar kendalinya. Hingga saat ini, akun tersebut masih dalam proses pemulihan.
Menutup klarifikasinya, Prilly menegaskan komitmennya untuk lebih berhati-hati dalam berkomunikasi di ruang publik, khususnya pada isu-isu sensitif seperti lapangan pekerjaan. Ia juga menyatakan akan terus menjalankan kerja sama dan kegiatan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Terima kasih untuk kalian semua untuk masukan, perhatian, dan pengertiannya,” ucap Prilly.