January 28, 2026 By pj

28 Januari 2026 – Arab Saudi mengklaim memiliki cadangan mineral bernilai fantastis yang diperkirakan mencapai US$2,5 triliun atau setara Rp41.943 triliun. Klaim ini menempatkan Arab Saudi sebagai calon pemain penting baru dalam persaingan global mineral kritis dan logam tanah jarang, sekaligus menandai upaya strategis negara tersebut untuk mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap minyak dan memperkuat posisi geopolitiknya di masa depan.
Pemerintah Arab Saudi menyebut cadangan mineral yang dimilikinya mencakup emas, seng, tembaga, litium, hingga berbagai jenis mineral tanah jarang seperti dysprosium, terbium, neodymium, dan praseodymium. Mineral-mineral tersebut memiliki peran penting dalam industri teknologi modern, mulai dari kendaraan listrik, turbin angin, hingga komputasi berkecepatan tinggi.
Klaim nilai cadangan sebesar US$2,5 triliun atau setara Rp41.943,62 triliun menjadikan sektor mineral Saudi mulai dilirik sebagai alternatif strategis di tengah dominasi global China dalam industri rare earth.
Selama ini, China masih menjadi pemain dominan dalam industri mineral tanah jarang. Badan Energi Internasional mencatat China menguasai lebih dari 90 persen output rare earth yang sudah dimurnikan serta lebih dari 60 persen produksi tambang rare earth global.
Dalam forum Future Minerals Forum di Riyadh, Direktur Eksekutif Minerals Center SAFE, Abigail Hunter, menjelaskan posisi China yang masih sangat unggul dalam rantai pasok mineral global.
“China sudah melangkah jauh lewat investasi strategis selama puluhan tahun, proyek-proyek yang didukung negara, koordinasi dengan sektor swasta, dan ekspansi internasional,” kata Hunter.
Sebagai bagian dari strategi besar di sektor mineral, Arab Saudi meningkatkan anggaran eksplorasi pertambangan secara signifikan. Berdasarkan data S&P Global, anggaran eksplorasi tambang Saudi melonjak 595 persen sepanjang periode 2021 hingga 2025.
Pemerintah Saudi juga semakin agresif menerbitkan izin pertambangan baru bagi perusahaan lokal maupun asing, meski skala eksplorasi tersebut masih relatif kecil dibandingkan negara tambang mapan seperti Kanada dan Australia.
Meski memiliki ambisi besar, pengembangan sektor pertambangan bukanlah proses instan. Abigail Hunter mengingatkan bahwa industri pertambangan membutuhkan waktu panjang sebelum dapat menghasilkan produk akhir.
“Realitanya, pertambangan itu permainan jangka panjang. Dibutuhkan tiga sampai lima tahun untuk membangun fasilitas pengolahan, bahkan bisa sampai 29 tahun di beberapa wilayah,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa klaim cadangan besar belum tentu langsung berujung pada produksi dan keuntungan ekonomi dalam waktu dekat.
Untuk mengejar ketertinggalan, Arab Saudi memangkas birokrasi, menurunkan tarif pajak investasi pertambangan, serta menyiapkan belanja besar-besaran. Dalam forum yang sama, perusahaan tambang milik negara Maaden mengumumkan rencana investasi sebesar US$110 miliar dalam satu dekade ke depan.
“Kami cukup rendah hati untuk menyadari bahwa kami tidak bisa melakukannya sendiri,” ujar CEO Maaden, Bob Wilt.
Investasi tersebut mencakup penguatan kemitraan internasional serta perekrutan talenta industri global.
Meski nilai sektor mineral masih kalah jauh dibandingkan cadangan minyak Saudi yang merupakan terbesar kedua di dunia, pertambangan dipandang memiliki nilai strategis jangka panjang. Dalam kerangka Vision 2030, Arab Saudi menetapkan pertambangan sebagai salah satu pilar utama diversifikasi ekonomi.
Strategi ini tidak hanya berfokus pada penambangan, tetapi juga penguatan rantai pasok domestik serta pengembangan industri manufaktur, termasuk ambisi menjadi produsen kendaraan listrik.
Para ahli menilai infrastruktur Arab Saudi yang terus berkembang membuka peluang negara tersebut menjadi pusat pemurnian mineral kritis regional, termasuk mineral yang ditambang dari Afrika.
“Bermitra dengan negara-negara Afrika sangat masuk akal secara logistik untuk memproses mineral di sini,” ujar Hunter.
Keunggulan Saudi juga dinilai terletak pada pasokan energi yang stabil serta keahlian perusahaan energi nasional Aramco dalam mengembangkan metode pemurnian yang lebih efisien.
Ambisi Arab Saudi di sektor mineral turut menarik perhatian Amerika Serikat. Selama ini, AS diketahui mengirim rare earth hasil tambangnya ke China untuk dimurnikan. Namun setelah China memperketat ekspor rare earth berat, AS mulai mencari alternatif mitra strategis.
Pada November lalu, Arab Saudi mengumumkan rencana investasi hampir US$1 triliun di sektor infrastruktur, teknologi, dan industri AS. Salah satu kesepakatan mencakup kolaborasi mineral, termasuk pembangunan fasilitas pemurnian rare earth di Saudi oleh MP Materials bersama Departemen Pertahanan AS.
Meski prospeknya besar, sejumlah tantangan masih membayangi. Rekam jejak lingkungan Arab Saudi dalam sektor pertambangan dinilai masih menjadi tanda tanya, mengingat negara tersebut menentang sebagian resolusi PBB terkait transparansi rantai pasok dan dampak lingkungan.
Selain itu, instabilitas kawasan Timur Tengah serta dinamika hubungan diplomatik dengan negara-negara Afrika kaya mineral turut menjadi faktor risiko.
Menurut Melissa Sanderson dari Critical Minerals Institute, transformasi ekonomi Arab Saudi ini dirancang untuk memperkuat posisi politik global negara tersebut.
“Ini bukan soal untung cepat. Ini strategi kekuasaan jangka panjang, pengaruh jangka panjang, dan keuntungan jangka panjang,” kata Sanderson.