Leet Media

Menkes Sebut 28 Juta Warga Indonesia Berpotensi Alami Gangguan Jiwa

January 22, 2026 By pj

22 Januari 2026 – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang mengalami masalah kejiwaan diperkirakan mencapai puluhan juta orang. Pernyataan ini disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI dan merujuk pada perhitungan Organisasi Kesehatan Dunia. Data tersebut menjadi gambaran awal kondisi kesehatan jiwa masyarakat sekaligus dasar penguatan layanan kesehatan jiwa nasional.

Perkiraan Jumlah Penduduk dengan Masalah Kejiwaan

Menteri Kesehatan memperkirakan sedikitnya 28 juta dari total penduduk Indonesia memiliki masalah kesehatan jiwa. Angka tersebut dihitung berdasarkan rasio gangguan kejiwaan global yang disampaikan WHO.

“Tadi juga ditanya, ini yang the tip of the iceberg (puncak gunung es). Karena WHO bilang, masalah kejiwaan itu satu dari delapan sampai satu dari sepuluh penduduk,” kata Budi saat memaparkan hasil pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Gedung Parlemen RI, Jakarta, Senin (19/1/2026).

Menurut Budi, dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, maka secara minimal terdapat 28 juta orang yang berpotensi mengalami gangguan kejiwaan.

“Jadi kalau Indonesia 280 juta, ya minimal 28 juta tuh punya masalah kejiwaan. Bisa itu depresi, disorder atau anxiety disorder, yang lebih berat ada skizofrenia, ada ADHD, ada penyakit-penyakit jiwa tuh ada banyak juga,” ujar Budi.

Hasil Skrining Kesehatan Jiwa Masih Rendah

Meski potensi gangguan kejiwaan dinilai tinggi, hasil skrining kesehatan jiwa melalui program Cek Kesehatan Gratis menunjukkan angka yang masih relatif rendah. Menurut Budi, temuan tersebut baru mencerminkan sebagian kecil kondisi sebenarnya di masyarakat.

“Nah, kita screen hasilnya seperti ini ya. Dari yang kita screen, masih rendah sekali. Ya jadi masih rendah sekali, angkanya masih di sekitar 5, di bawah 1 persen untuk dewasa dan anak-anak 5 persen. Ya tapi dengan skrining ini kita sudah tahu,” kata Budi.

Temuan Gangguan Jiwa Berdasarkan Kelompok Usia

Berdasarkan data hasil pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis Kementerian Kesehatan per 1 Januari 2026, lebih dari 27 juta penduduk telah menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa. Hasilnya menunjukkan gejala depresi dan kecemasan lebih banyak ditemukan pada kelompok anak sekolah dan remaja dibandingkan kelompok dewasa dan lansia.

Pada kelompok anak usia sekolah dan remaja, sebanyak 4,8 persen atau 363.326 orang terdeteksi mengalami gejala depresi, sementara 4,4 persen atau 338.316 orang menunjukkan gejala kecemasan. Adapun pada kelompok dewasa dan lansia, gejala depresi tercatat sebesar 0,9 persen atau 174.579 orang, sedangkan gejala kecemasan sebesar 0,8 persen atau 153.903 orang.

Upaya Penguatan Pelayanan Kesehatan Jiwa

Hasil skrining tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk mulai memperkuat layanan kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Budi menyebutkan bahwa selama ini layanan kesehatan jiwa belum tertangani secara optimal di puskesmas.

“Dan di halaman selanjutnya, kita juga sudah mulai menurunkan, karena jiwa itu enggak pernah ada di puskesmas tata laksananya,” ujar Budi.

Ia menambahkan bahwa Kementerian Kesehatan kini telah menyusun tata laksana pelayanan kesehatan jiwa, baik untuk pasien yang membutuhkan pengobatan maupun layanan psikologis.

“Sekarang kita udah bikin tata laksananya, baik yang membutuhkan farmasi, obat-obatan, atau yang membutuhkan psikologi apa, konseling ya. Kita sekarang sedang bangun sistemnya supaya bisa dilayani di puskesmas-puskesmas,” pungkas Budi.

Related Tags & Categories :

highlight