November 3, 2025 By pj

3 November 2025 – Jakarta Fashion Week (JFW) 2026 resmi berakhir dengan menorehkan kesuksesan besar sebagai ajang mode tahunan paling bergengsi di Indonesia dan Asia Tenggara. Diselenggarakan pada 28 Oktober–2 November 2025 di City Hall, Pondok Indah Mall 3, perhelatan ini menjadi wadah bagi desainer, jenama, dan pelaku industri kreatif untuk memperlihatkan karya terbaik mereka, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di panggung mode global.
Mengusung semangat “Legacy of Style”, JFW tahun ini menghadirkan lebih dari 150 perancang dan jenama, termasuk kolaborasi lintas negara, program keberlanjutan, serta kampanye pemberdayaan perempuan. Paduan antara tradisi dan inovasi menjadi benang merah dari seluruh pergelaran yang berlangsung selama sepekan.
Salah satu sorotan utama tahun ini adalah hadirnya program “Fashion Korea” hasil kerja sama Korea Creative Content Agency (KOCCA) Indonesia, yang menampilkan dua label asal Korea Selatan, KUMÉ dan MONTSENU.
Melalui kolaborasi ini, KOCCA berharap tercipta pertukaran kreatif antara desainer Korea dan Indonesia, memperkuat ekosistem mode regional di Asia.
Tahun ini, LUX Skin Science kembali menjadi salah satu highlight JFW melalui fashion show bertema “The Revelation of Glow”, berkolaborasi dengan tiga desainer ternama: Ivan Gunawan, Astrid Nadia Wiradinata (ANW), dan Rinda Salmun.
Mengusung kampanye “Own Your Glow”, LUX mengajak perempuan Indonesia untuk terbebas dari beauty judgement dan berani mengekspresikan kecantikan autentik mereka. Fashion show ini menghadirkan Luna Maya, Bella Clarissa, dan Cinta Laura sebagai LUX Stars inspiratif — dengan Cinta Laura diperkenalkan sebagai Brand Ambassador terbaru LUX.
Melalui inovasi LUX Skin Science, produk body wash dengan konsep skinification ini menggabungkan bahan aktif skincare seperti Peptide, 4D Hyaluronic Acid, dan AHA Brightening Complex, memberikan pengalaman perawatan kulit premium bagi perempuan modern.
Desainer Ivan Gunawan menampilkan koleksi couture “Nefertari” yang terinspirasi dari keanggunan Ratu Mesir kuno. Dengan palet warna sandalwood, gold, dan bronze, koleksi ini menggambarkan kemewahan elegan dan kekuatan perempuan. Kolaborasi dengan desainer aksesori Rinaldy Yunardi menambah sentuhan megah dan artistik pada setiap tampilan.
Desainer Astrid Nadia Wiradinata (ANW) menampilkan eksplorasi warna dan tekstur yang terinspirasi dari konsep aging as beauty. Melalui pewarnaan tangan dan kolaborasi bersama Colours of Chroma, koleksi ini menampilkan material yang mencerminkan keindahan dalam ketidaksempurnaan.
Dalam komitmennya terhadap sustainable fashion, Rinda Salmun mengolah 40 kilogram limbah tekstil menjadi bahan tenun baru menggunakan teknik ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Koleksi “Resonance” menghadirkan kritik sosial terhadap ketimpangan urban, dengan palet warna cerah yang mencerminkan dialog antara masa lalu dan masa kini.
Bersama Cristina Panarese, Sebastian Gunawan menghadirkan “Kembang Jiwa”, interpretasi kebaya dan batik dalam bentuk modern. Kolaborasi dengan EPA Jewelry dan Agam Riadi menghasilkan karya yang menonjolkan elegansi feminin dan kebanggaan terhadap budaya Indonesia.
Sapto Djojokartiko menutup rangkaian koleksi dengan “The SAPTOJO”, refleksi mendalam tentang waktu, patina, dan keindahan yang tumbuh dari proses. Menggunakan Songket Bali dan bordir tangan, koleksi ini menonjolkan filosofi bahwa keindahan tidak hanya ada pada hal baru, tetapi juga pada yang bertahan dan berevolusi.
Sebagai penutup perhelatan JFW 2026, Dewi Fashion Knights (DFK) 2026 kembali menjadi sorotan utama. Pada JFW 2026, DFK mengusung tema ‘Nusantara’ sebagai simbol kesinambungan antara warisan dan gaya, yang hidup dan bertransformasi menjadi inspirasi baru bagi generasi kreatif.
Melalui tema “Nusantara”, DFK menampilkan kesinambungan antara warisan budaya dan inovasi kontemporer. “DFK menjadi bukti bahwa warisan adalah fondasi untuk terus berinovasi. Gaya lokal kini memiliki bahasa universal yang bisa didengar dunia,” ujar Andandika Surasetja, Creative Director Jakarta Fashion Week 2026.
Pergelaran DFK I menampilkan TANGAN Privé, KRATON Auguste Soesastro, dan TOTON, yang masing-masing menghadirkan koleksi dengan kekuatan narasi dan teknik khas Indonesia.
TANGAN Privé merayakan satu dekade dengan 18 look yang memadukan korsetri, tailoring, dan kebaya sebagai dialog tradisi dan modernitas. KRATON menampilkan ‘Made in the World’ dengan bahan global dan arsitektur siluet yang presisi, menegaskan citra Timur modern. TOTON lewat ‘Regang’ menginterpretasikan busana Aceh dan Swarnadwipa dengan material daur ulang, menekankan mode berkelanjutan.
DFK II menutup Jakarta Fashion Week 2026 dengan Tulola, Sapto Djojokartiko, dan Sebastian Gunawan Signature, menonjolkan warisan Nusantara melalui karya puitis, kerajinan tangan, dan kolaborasi yang memadukan kebaya, batik, dan perhiasan dalam bahasa modern.
Jakarta Fashion Week 2026 tidak hanya menjadi perayaan estetika, tetapi juga refleksi atas perjalanan mode Indonesia menuju masa depan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
Melalui kolaborasi internasional, kampanye sosial, dan eksplorasi warisan budaya, JFW kembali menegaskan komitmennya untuk menjadi platform utama yang menghubungkan kreativitas lokal dengan dunia.
Dengan keberhasilan tahun ini, JFW sekali lagi membuktikan diri sebagai etalase utama identitas dan inovasi mode Indonesia, yang terus tumbuh, berevolusi, dan menginspirasi.
Related Tags & Categories :